DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Motherhood Journey
Your Motherhood Journey

My VBAC story

Share:

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, tepat dua minggu setelah menikah, pada usia 22 tahun, saya dinyatakan hamil. Kehamilan pertama saya jalani dengan sukacita, walaupun mual muntah begitu hebat di trimester awal.

            Pada usia kehamilan 34 minggu, saya merasa gerakan janin begitu aktif. Tanpa berpikir panjang, kami langsung menuju rumah sakit. Setelah dilakukan pemantauan dan CTG selama 24 jam, dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar karena pergerakan bayi sangat minim dan hasil CTG tidak kunjung membaik. Alhamdulillah, putra pertama saya lahir dengan sehat dan sempurna fisiknya. Beratnya 3.29 kg meskipun lahir di usia kandungan 34 minggu 5 hari.

            Sehari setelah operasi caesar, saya mengalami komplikasi hematoma. Hematoma mengakibatkant pemulihan saya berlangsung lebih lama serta membuat saya trauma luar biasa karena rasa sakit dan tidak nyaman berkepanjangan. Belum lagi saya harus bolak-balik rumah sakit untuk merawat luka caesar saya.

            Karena dilahirkan lebih awal dari seharusnya, anak pertama kami harus menjalani berbagai terapi verbal dan motorik agar perkembangannya sesuai dengan milestone usianya. Alhamdulillah, putra kami tumbuh sehat dan cerdas. Saat ia berusia dua setengah tahun, psikolog yang mendampinginya menyarankan untuk kami memiliki anak kedua.


Setelah berpikir dengan matang, kami memutuskan untuk memiliki anak kedua. Saat itu juga, saya bertekad kuat bahwa saya ingin melahirkan dengan VBAC (Vaginal Birth After Cesarean). Kami berkonsultasi dengan dokter kandungan dan ia sangat mendukung keputusan saya.


           Saya melakukan berbagai upaya untuk bisa VBAC. Saya rutin melakukan yoga dan berusaha tetap aktif selama kehamilan. Saya juga menjaga asupan makanan karena riwayat memiliki janin yang besar. Kehamilan ini saya jalani dengan sangat nyaman; mual dan muntah pun tidak begitu terasa karena saya juga fokus mengurus anak pertama saya.

            Dokter memberikan tenggat waktu sampai tepat 40 minggu pada tanggal 27 Desember untuk prosedur VBAC. Salah satu syarat yang diberikan adalah persalinan harus dilakukan senatural mungkin tanpa bantuan percepatan seperti induksi. Saya pun melakukan berbagai usaha untuk merangsang induksi alami.

           Suatu malam, saya merasakan kontraksi secara teratur dan kamipun pergi ke rumah sakit pada pukul 23:00. Di rumah sakit, tanpa melakukan cek dalam atau pemeriksaan lain, seorang bidan berkata bahwa saya hanya stress dan ia bertanya kapan mau dijadwalkan untuk caesar. Saya terdiam, kontraksi seketika hilang. Saya sedih karena seluruh upaya yang sudah saya lakukan terasa sia-sia. Namun, saya sangat yakin bahwa saya dan bayi dalam kandungan sehat. Kami memutuskan mencari tenaga kesehatan di usia kandungan 39 minggu. Saat saya sudah pasrah dan berserah kepada Tuhan, kontraksi muncul tepat di tanggal 27 Desember. Proses persalinan memakan waktu tiga hari akibat kontraksi yang hilang timbul dan tidak terlalu kuat. Alhamdulillah, atas izin Allah, dukungan suami, keluarga, teman terdekat, serta tenaga kesehatan yang begitu suportif, putra kedua kami lahir dengan selamat pada tanggal 29 Desember 2018 melalui proses persalinan yang begitu tenang dan menyenangkan. Berat bayi kami bahkan mencapai 4,33 kg.

Our second baby


Saya sangat bersyukur memiliki support system yang luar biasa kuat. Kini, setahun telah berlalu dan saya telah belajar bahwa tak ada yang tidak mungkin selama kita terus berusaha dan Tuhan memberikan izinNya.

Octora Rahmayulis

Saya Octa, usia saya 27 tahun. Seorang ibu dari dua anak laki-laki yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang bahagia.

Related
Self Awareness dengan Rollerskool
Mother Transition: Semua ibu perlu tahu.
Baby blues di kehamilan kedua
Tags: #givingbirth, haloibu, pregnancy, vbac
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibu.id