DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Motherhood Journey
Your Motherhood Journey

Postpartum Depression (PPD) on Fathers

Share:

Wow, kayaknya serius banget ya pembahasan kali ini. Memang, kali ini saya mau mengangkat isu mengenai postpartum depression (PPD) ini. Saya samar-samar beberapa kali mendengar soal istilah ini saat awal-awal menjadi seorang Ayah. Katanya, ibu-ibu yang baru lahiran bisa kena baby-blues juga lama-lama bisa jadi depresi, namanya ya itu tadi postpartum depression atau bahasa gamblangnya depresi pasca-kelahiran. Sebelum saya lebih jauh, saya ingin berbagi sesuatu dulu sama kalian, yang pasti ini adalah penjelasan kenapa saya mau mengangkat topik ini. 

SAYA ADALAH SEORANG AYAH TIGA ANAK YANG SURVIVE DARI POSTPARTUM DEPRESSION DAN SAYA TIDAK MALU UNTUK MENYATAKAN INI.


“Saya lama-lama stress, belum lagi kuliah belum lulus-lulus, kerjaan serabutan saya ambil, saya berusaha untuk mendapatkan pride sebagai seorang suami dan juga seorang ayah. Semua hal di hidup ini membuat saya kalut, di suatu titik beberapa kali, saya mencoba untuk membayangkan cara bunuh diri beserta lokasi yang baik dan benar supaya tidak merepotkan semua pihak keluarga dan teman-teman, selama setahun pikiran bunuh diri selalu terlintas di benak saya, tapi disaat itu juga saya membayangkan wajah-wajah orang yang saya sayang mulai dari orangtua, istri, anak, sahabat-sahabat. Hari-hari saya makin kalut, saya banyak menghabiskan uang saya untuk beli minuman alkohol, saya mabuk sesering mungkin dalam seminggu untuk terhindar dari masalah-masalah dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri itu. Tapi sulit sekali itu semua hilang.”

Raza, anak pertama saya

Paragraf diatas adalah sebuah kutipan dari tulisan saya yang saya publish tanggal 23 Februari 2017 tepatnya dua tahun setelah saya mulai benar-benar bisa lepas dari yang namanya PPD. Jujur saya bisa dikatakan self-diagnosed tentang PPD ini, saya tidak pernah sadar titik balik kehidupan yang saya alami pada 2011 dan membuat saya merasa stress sebegitunya itu adalah faktor dari suatu gangguan yang saya alami dan bernama PPD. Suatu ketika sekitar tahun 2014, tepatnya tidak lama setelah kelahiran anak kedua kami, Mirza (istri saya) menemukan sebuah artikel penellitian, yang bahkan saya juga udah lupa karena kehilangan di HP yang lama, artikel penelitian tersebut intinya menyatakan bahwa seorang Ayah juga mampu terkena PPD dan banyak dijelaskan indikasinya.

Saat membaca artikel itu kok saya makin merasa bahwa itu merupakan hal yang saya alami, semua sikap dan indikasi-indikasinya sangat seperti apa yang saya rasakan. Adanya kendala finansial tidak memungkinkan saya untuk pergi mencari bantuan profesional, sampai akhirnya saya bertemu dengan calon suami dari kakak sepupu saya yang kebetulan adalah seorang mentor meditasi. Saat itu pun saya memang punya interest untuk mendalami hal-hal spiritual seperti itu, akhirnya saya pun mendalami meditasi dan saat makin banyak baca dan mendalami praktek meditasi, saya akhirnya sadar bahwa ketenangan jiwa inilah yang harusnya saya pahami dan terlebih lagi mempraktekkan self-love. 

Pada tahun 2015 inilah saya mulai bangkit kembali menjadi seorang Aldo yang berhasil melawan PPD dan juga mendalami meditasi dan spiritual, rasanya bener-bener penuh cinta.
Nah ini kan hanya kisah pribadi saya sekilas, tapi sebenernya apa sih PPD dan bagaimana penanggulangannya, kebetulan dalam 4 tahun terakhir ini saya mulai mudah untuk mencari di Google mengenai hal ini, banyak jurnal medis dan artikel media yang mulai mengangkat topik mengenai kasus PPD pada para Ayah ini. Salah satu website yang menarik adalah ini :

http://postpartum.org/services/dads/signs-of-ppd-anxiety-in-men/ , saya akan copy paste faktor-faktor yang tertera di web ini:

Men and women can experience depression very differently. Here are some symptoms that are common in men:

  1. Increased anger and conflict with others
  2. Increased use of alcohol or prescription/street drugs
  3. Frustration or irritability
  4. Violent behaviour
  5. Significant weight gain or loss
  6. Isolation from family and friends
  7. Being easily stressed
  8. Impulsiveness or risk taking (this kind of behaviour can include reckless driving or extramarital affairs)
  9. Feeling discouraged; cynicism
  10. Increase in complaints about physical problems, like headaches, digestion problems or pain
  11. Problems with concentration or motivation
  12. Loss of interest in work, hobbies and/or sex
  13. Working constantly
  14. Concerns about productivity and functioning at work or school
  15. Fatigue
  16. Feeling sad or crying for no reason
  17. Conflict between how you feel you should be as a man and how you are
  18. Thoughts of suicide or death

Some of the factors that can contribute to depression in new or soon-to-be fathers include:

  1. Personal history of depression
  2. Family history of depression
  3. Worries about being a parent
  4. Feeling overwhelmed with expectations in your role at work and your role as a father
  5. Financial problems
  6. Lack of social and/or emotional support
  7. Stress in relationship with family or spouse
  8. Missing attention and/or sex from your partner
  9. Stressful birthing experience
  10. Lack of sleep after the baby is born
  11. Feeling excluded from the bond between mom and baby

Menarik kan? Nah ini lah faktor-faktor yang pernah saya baca juga sebelumnya, kemudian saya merenungkan semuanya, saya semakin alcohol abuse, selalu terlintas bagaimana cara bunuh diri yang baik dan benar, selalu dalam tingkat kesadaran penuh kemarahan, insomnia, merasa cemburu karena perhatian istri sepenuhnya kepada anak, mulai menurun hasrat seksual dari pasangan, terbebani dengan segala kewajiban sebagai seorang Ayah dan juga seorang Mahasiswa, ketika istri emosi marah-marah dengan intens saat itulah saya juga makin meledak-meledak meluap banget, dan hampir semua-semuanya benar adanya.

Untuk para Ayah ataupun calon Ayah, saya mohon banget kita para laki-laki bukan berarti harus selalu terlihat maskulin atau KUAT di mata orang sekitar kita. Gimanapun juga kita ini manusia, bahkan Superman saja punya kelemahan terhadap batu kryptonite yang bahkan berasal dari planet-nya sendiri. Artinya, kita para laki-laki tidak melulu harus menunjukkan kekuatan kok, di dalam diri kita aja itu pasti ada kelemahan, entah itu sekedar kelemahan ecek-ecek kayak saya takut sama kecoa misalkan, sampai ya kelemahan terhadap hal yang lebih besar seperti depresi ini. Selalu ingat, apapun yang ada di dalam kehidupan ini, cobaan seberat apapun tidak pernah tidak ada solusinya. Tuhan ga sadis kayak Afghan, apapun yang kita laluin Tuhan Cuma pengen ngetest“Kamu tuh manusia kuat atau manusia cemen?” kalau kamu lemah dan berhasil mengakhiri hidup kamu, ya ga ada ruginya juga buat Tuhan, tapi kalau kamu berhasil selamat dari apapun yang terberat bisa Tuhan kasih ke kamu, sudah pasti kamu akan diberikan segala kenikmatan oleh-Nya, “trus yang kamu dapet lagi?” tentunya kamu ingin menolong sesama lagi, berbagi kisah seperti ini, memberikan informasi dan inspirasi buat banyak orang itu adalah hal paling tulus yang bisa kamu lakukan kepada sesama Manusia sebagai mahkluk ciptaan-Nya.


With a Lot of Love,

Geraldo Oryza

Geraldo Oryza

Ayah dari 3 anak, suami dari @mirzaniaugustya, salah satu relawan penggalang keluarga dari @bapakrangkul, seorang musisi dan pembelajar sepanjang masa

Related
Melahirkan Buku “Halo Ibu, Apa Kabar?”
Halo Ibu, Apa kabar?
Self Awareness dengan Rollerskool
Tags: #ceritaayah, #PPDonfathers, haloibu, haloibuapakabar, HIAK
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibu.id
This error message is only visible to WordPress admins

Error: Access Token for haloibu.id is not valid or has expired. Feed will not update.

There's an issue with the Instagram Access Token that you are using. Please obtain a new Access Token on the plugin's Settings page.
If you continue to have an issue with your Access Token then please see this FAQ for more information.