DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Perjuangan Menjadi Ibu Baru Dan Tips Menghadapinya 

Share:

Menjadi orang tua merupakan salah satu transisi kehidupan yang dilalui perempuan. Meski peran baru sebagai ibu sangat menyenangkan, tetapi juga ada tanggung jawab besar terhadap buah hati sehingga sering kali membuat ibu kewalahan, menangis, hingga stres. 

Transisi menjadi ibu melibatkan banyak kerja keras dan memberikan identitas baru bagi perempuan. Ini merupakan perjalanan panjang yang berdampak pada kehidupan anak dan dirinya sendiri. 

Sama seperti bayi yang baru lahir, sosok ibu baru juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang pasca melahirkan. Sebab, ada banyak perjuangan yang dihadapi seorang ibu baru. 

Dalam perjuangannya itu, Ia sering dihadapkan dengan keputusan sulit, tantangan yang berat, hingga meremehkan dirinya sendiri. 

Berikut beberapa perjuangan ibu baru serta tips menghadapinya: 

1. Menyesuaikan Diri dengan Peran Barunya 

Ibu baru perlu menyesuaikan diri dengan peran barunya. Banyak perubahan gaya hidup yang dilakukan untuk beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai ibu.  

Fase penyesuaian ini membutuhkan banyak waktu dan usaha, mulai dari membangun kembali aktivitas kehidupan sehari-hari hingga membuat setiap keputusan mengenai buah hati.  

Terlebih, bayi memiliki pola hidup yang berbeda dengan orang dewasa. Waktu tidur, kebutuhan menyusui, dan membersihkannya merupakan tantangan bagi ibu baru. Penyesuaian ini tak jarang membuat ibu kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. 

Tips: Sebagai orang tua baru, kamu mungkin menyadari bahwa meluangkan waktu untuk diri sendiri itu sulit. Oleh karena itu, sesekali mintalah bantuan pasangan, keluarga atau sahabat agar kamu bisa memiliki waktu me time walaupun durasinya tidak lama. 

Sebelum merawat anak dan keluarga kecilmu, penting juga untuk memulainya dari perawatan terhadap diri sendiri. Meskipun hanya sebentar, me time dapat meningkatkan kesehatan mentalmu sehingga kamu dapat merawat si kecil dalam kondisi yang baik. 

2. Perjuangan Menyusui 

Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan menyusui datang secara alami sehingga tidak perlu dipelajari. Namun, kenyataannya banyak perempuan yang kesulitan menyusui anak pertamanya.  

Menurut pakar psikologi dari New York, Lisa Spiegel, mitos tersebut tidak benar karena menyusui dengan benar dibutuhkan pengetahuan serta latihan. Selain itu, menyusui juga membuat ibu merasa tertekan karena dokter, teman, dan keluarga memintanya untuk menyusui bayi yang baru lahir. 

Spiegel menyarankan agar ibu baru memilih cara paling nyaman saat menyusui. Kata dia, tidak ada gunanya jika saat menyusui selalu tertekan dan frustasi. “Yang paling penting adalah menyusui yang nyaman untuk Anda dan bayi Anda,” jelasnya. 

Tips: Jika kamu menghadapi masalah saat menyusui, konsultasikan masalah tersebut dengan tenaga medis seperti konsultan laktasi, bidan atau dokter. Namun, jika masalah tersebut tidak terlalu fatal, misalnya kamu hanya tidak tahu posisi yang tepat untuk bayi saat menyusui, kamu bisa bertanya pada ibu lain yang berpengalaman menyusui anaknya. 

3. Cemas Tidak Bisa Merawat Bayi 

Karena belum berpengalaman, banyak ibu baru merasa cemas terhadap perkembangan dan kesehatan anaknya. Selain dipicu karena tidak adanya pengalaman serta informasi yang cukup, ada aspek biologis dari rasa kekhawatiran tersebut.  

Di mana hormon ibu sedang tidak stabil ketika menjalani masa transisi tersebut sehingga emosi ibu juga naik turun. Survei yang dilakukan Mead Johnson Nutrition mengungkap bahwa ibu menghabiskan waktu lebih dari 1.400 jam dalam setahun untuk memikirkan bayinya.  

Hal yang paling dikhawatirkan ibu yaitu tentang kesehatan bayi mereka secara keseluruhan. Kekhawatiran lainnya meliputi tumbuh kembang anak serta kekhawatiran anak tidak mendapatkan ASI yang cukup.  

Tips: Bergabung dengan komunitas ibu dapat mengurangi rasa cemas tersebut. Memiliki hubungan dengan orang tua lain dapat memberimu banyak informasi penting seputar motherhood dan bagaimana cara merawat bayi berdasarkan pengalaman mereka. 

Hubungan dengan orang tua lainnya dapat membantumu mengambil keputusan yang tepat selama masa transisi menjadi ibu baru. Selain itu, kamu juga tidak akan merasa sendirian lagi. 

4. Bingung Memutuskan Kembali Bekerja Atau Tidak 

Pilihan untuk kembali bekerja atau mengurus anak sepenuhnya membuat adalah keputusan yang sulit. Banyak ibu yang terus bertanya apakah pilihan yang telah diambil merupakan keputusan tepat atau tidak. 

Ibu yang memilih kembali bekerja merasa bersalah karena tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan anaknya. Sementara itu, tidak sedikit juga ibu yang memilih jadi ibu rumah tangga merasa terisolasi dan merindukan rekan kerjanya. 

Tips: Pertama-tama, kamu bisa bercerita tentang hal ini dengan ibu yang pernah mengalaminya. Minta pendapatnya dan saran untuk dirimu.  

Jika memungkinkan, kamu bisa mencoba meminta sistem kerja yang fleksibel setelah melahirkan. Kamu juga bisa mencari pekerjaan lain yang memungkinkanmu tetap bisa mengasuh si kecil. Misalnya freelance atau kerja full time dengan sistem remote. 

Kamu juga harus menyadari bahwa keputusan yang sudah diambil nantinya bisa kamu ubah. Saat kamu memilih bekerja full time di kantor dan merasa tidak nyaman, it’s okay untuk mengajukan resign dan mencoba jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. 

5. Tekanan untuk Jadi Ibu Sempurna 

Banyaknya komentar dari keluarga dan kerabat membuat ibu baru merasa dirinya harus menjadi sosok yang sempurna hingga Ia tertekan. 

Setidaknya, Ia pasti mendapat komentar bahwa seorang istri harus selalu tampil cantik di hadapan suaminya, tetapi di saat yang bersamaan Ia juga harus mengurus rumah dan anaknya. 

Berusaha menjadi ibu yang sempurna hanya akan membuatmu depresi. Tak apa rumahmu berantakan untuk sementara waktu selama si kecil baik-baik saja dan Ia mendapat kasih sayang yang cukup.  

Tips: Tidak semua komentar atau saran bisa kamu dengar. Kamu bisa mengabaikannya dan terus melakukan apa yang membuatmu dan keluarga kecilmu nyaman. 

Tidak apa-apa membuat kesalahan sewaktu-waktu. Kamu harus belajar dari kesalahan itu agar tidak terulang kembali dan memaafkan dirimu sendiri. 

6. Konflik dengan Pasangan 

Tidak sedikit ibu baru mengira hubungannya dengan suami semakin dekat setelah kelahiran anak pertama mereka. Namun, kehadiran bayi dalam rumah tangga justru bisa memicu konflik.  

Masa transisi menjadi ibu baru membuat perempuan lebih sensitif sehingga mereka mengharapkan perhatian ekstra dari suami. Sementara itu, tidak semua laki-laki peka terhadap kondisi tersebut. Hal inilah yang berpotensi menjadi konflik.  Lalu, bagaimana tips menghadapinya? 

Tips: Pertama, kamu harus mengakui bahwa merawat bayi itu sulit sehingga wajar jika kamu merasa kewalahan dan membutuhkan bantuan. Namun, kamu juga perlu memahami peran suami yang juga bertransisi menjadi ayah baru. 

Ia tidak bisa membaca pikiranmu. Jadi, sebaiknya bicarakan bersama kesulitan apa yang sedang kamu hadapi dan bantuan apa saja yang kamu inginkan darinya. 

7. Tidak Percaya Diri dengan Bentuk Tubuh Pasca Melahirkan 

Setelah melahirkan, bentuk tubuh seorang perempuan pada umumnya mengalami perubahan. Misalnya, perut buncit, ukuran pinggul yang melebar, dan bagian tubuh lainnya membesar.  

Perubahan tersebut sering kali membuat ibu baru merasa sedih dan tidak percaya diri. Terlebih ketika ada orang lain yang mengomentari bentuk tubuhnya pasca melahirkan. Padahal, perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan itu normal. 

Tips: Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya yaitu memperhatikan bagian tubuh yang menurutmu paling baik. Terus memperhatikan bagian tubuh tersebut perlahan akan meningkatkan rasa percaya dirimu. 

Ketika ada orang yang mengomentari tubuhmu, tegaskan dalam hati bahwa kamu masih memiliki bagian tubuh lainnya yang lebih indah. Kemudian, kamu bisa kembali berolahraga setelah kondisi fisikmu pulih. 

Referensi: 

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Mengatasi Savior Complex: Saat Menolong Orang Bikin Kewalahan 
Pentingnya Mengajarkan Sikap Tegas Pada Anak
Denial Feeling: Wajar, Tapi Bisa Berdampak Buruk 
Tags: #empoweringmothers, #haloibu, #ibu, #menjadiibu, #motherhood, #womencircle
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid