DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

NGERASAIN MOTHERHOOD BURNOUT, WAJAR KOK, BU, TAPI…

Share:

Ketika seorang ibu memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, banyak orang yang berpikir kalau mereka bisa santai-santai saja di rumah. Padahal, menjadi ibu rumah tangga juga punya beban yang sama seperti pekerjaan lainnya, bahkan mungkin, lebih berat.

Tidak jarang, ibu-ibu rumah tangga pun mengalami burnout akibat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Mulai dari mengurus seisi rumah, mengurus anak dan pasangan, hingga mengurus keluarga yang tinggal bersama.

Motherhood burnout, juga dialami oleh ibu-ibu “double job” dengan pekerjaan profesional. Ibu yang bekerja juga harus membagi waktunya dengan baik, agar pekerjaan di kantor bisa tetap terselesaikan dengan pekerjaan rumah. Ibu bekerja juga terkadang terpaksa “merelakan” anaknya ke tangan orang lain, seperti pengasuh ataupun keluarga.

Harus disadari, bahwa terjadinya motherhood burnout salah satunya karena pembagian peran gender yang tradisional. Pembagian gender jadul ini sering menuntut ibu untuk terus bisa hidup secara mandiri dan memiliki pekerjaan sebagai “tambahan” finansial untuk membantu keuangan keluarga.

Namun, tidak jarang motherhood burnout terjadi karena ibu yang merasa perfeksionis dan tertekan dengan tuntutan yang datang dari lingkungan sekitar. Hal ini menjadikan ibu menjadi seseorang yang harus selalu bisa memberikan yang terbaik bagi keluarga dan tidak memberikan ruang bagi diri sendiri untuk belajar dan membuat kesalahan.

Kondisi ini diperparah dengan keengganan ibu untuk meminta bantuan kepada pihak-pihak lain, bahkan pasangan sendiri. Ibu sering merasa bahwa dirinyalah yang harus “bertanggung jawab” terhadap semua hal, sehingga tidak mengizinkan dirinya sendiri bahkan untuk sekadar beristirahat.

Sama seperti burnout lainnya, motherhood burnout juga dapat berpengaruh ke kondisi fisik, lingkungan, dan psikologis seseorang. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, karena dapat meningkatkan risiko berbahaya terhadap kesehatan mental, tanggung jawab profesional, hubungan interpersonal dan intrapersonal, dll.

Tanda-tanda yang dialami ketika seorang ibu mengalami motherhood burnout kurang lebih sama dengan burnout lainnya, seperti jadi memiliki “sumbu pendek”, merasakan kelelahan mental, merasa bersalah akibat sisi keibuan dan orang tua yang dilakukan, merasakan penyesalan telah memiliki anak, kelelahan saat berinteraksi dengan orang lain, atau bahkan merasa bahwa kita tidak cukup baik dan anak kita berhak mendapatkan ibu yang lebih baik.

Berbagai tanda di atas dapat membawa ibu ke dalam satu kondisi yang semakin berat. Ibu biasanya akan merasakan berbagai perasaan negatif yang sering kali tidak terhindari. Perasaan malu, bersalah, dan merasa sendirian sering kali menghantui ibu yang mengalami motherhood burnout.

Sayangnya, sedikit ibu yang mau menceritakan perasaan dan kondisi ini ke pasangan, teman, atau profesional psikologi. Banyak ibu yang merasa, dirinya harus menjadi seorang pahlawan yang bisa mengatasi semuanya seorang diri.

Jika ibu memang mengalami tanda-tanda di atas dan memiliki perasaan tersebut, tidak ada salahnya ya, Bu, untuk bercerita dan meminta bantuan kepada orang lain. Selain berpengaruh terhadap diri sendiri, motherhood burnout juga dikhawatirkan akan berpengaruh pada kehidupan keluarga.

Merasa bertanggung jawab terhadap semuanya, ibu akan mengaktifkan mode bertahan hidup (survival mode) dan menjalani semuanya dengan cara autopilot. Benar, semua tanggung jawab ibu selesai, tapi ibu sering tidak merasakan apa-apa meski sudah berhasil menyelesaikannya, sehingga merasa seperti robot.

Hal ini akhirnya dapat membawa ibu ke situasi lainnya, yaitu hubungan yang dapat renggang dengan pasangan, bahkan anak. Beberapa ibu merasa kehadiran pasangan dan anak adalah beban, yang tidak dapat diatasi. Parahnya lagi, hubungan yang renggang dan perasaan ini dapat membuat ibu jadi seseorang yang penuh kemarahan dan kekerasan, tanpa disadari.

Tindakan-tindakan seperti ini tentunya ingin ibu hindari, ‘kan, karena selain bisa membuat hubungan semakin renggang, tentunya juga dapat menimbulkan trauma pada anak yang melihat dan merasakannya.

Meski perasaan jenuh dan lelah pada ibu dapat diwajarkan, tapi ketika sudah masuk ke dalam motherhood burnout yang dapat menyebabkan kondisi di atas, tentunya ibu dan lingkungan sekitarnya perlu menyadari dan mencari bantuan untuk menyelesaikannya.

Untuk mengatasinya, ibu bisa meminta waktu untuk beristirahat pada pasangan dan keluarga, serta melakukan me-time. Ibu bisa melakukan hal-hal yang ibu sukai, beristirahat ketika sudah waktunya untuk istirahat, mengikuti komunitas-komunitas ibu untuk saling berbagai, atau sekadar berkumpul bersama dengan orang-orang yang ibu butuhkan.

Namun, melakukan me-time saja tidak cukup untuk menyelesaikan motherhood burnout yang ibu rasakan. Ada beberapa hal yang perlu ibu lakukan sendiri. Ibu harus menyadari faktor risiko yang menyebabkan ibu memasuki kondisi ini. Misalnya, ibu yang hidup dalam lngkungan yang individualis, biasanya akan lebih berisiko untuk mengalami motherhood burnout, dibandingkan ibu yang hidup di lingkungan kolektif.

Untuk itu, ibu perlu mencatat faktor risiko tersebut. Ibu juga bisa sekaligus mencatat apa saja yang terjadi, termasuk perasaan ibu setiap harinya dalam jurnal. Jurnal ini akan berguna untuk melihat pola dan mengetahui kondisi naik dan turun ibu. Adanya jurnal ini juga akan sangat membantu ketika ibu bercerita ke pasangan ataupun seorang profesional.

Selanjutnya, ibu perlu menyadari bahwa setiap orang bisa memiliki kekurangan, sehingga tidak ada gunanya untuk membandingkan diri dengan orang lain. Ibu juga perlu belajar menolak dan meminta bantuan, termasuk untuk hal-hal kecil yang mungkin memang sedang tidak bisa ibu kerjakan.

Bersama dengan profesional dan komunitas, ibu bisa memelajari berbagai hal baru, termasuk mengenai mindful parenting. Ibu bisa mengetahui berbagai cara baru, yang mungkin saja akan bisa membantu ibu untuk menyelesaikan beberapa hal yang dirasakan.

Mengalami motherhood burnout, memang bukan salah ibu, karena menjadi istri dan ibu di saat yang bersamaan, memanglah berat, Namun, ibu harus mengakui dan jujur kepada diri sendiri mengenai perasaan-perasaan ibu.

Dengan menjadi ksatria yang jujur dan terbuka, tidak ada yang bisa mengalahkan keberanian seorang ibu. Meski motherhood burnout bukanlah kesalahan ibu, ibu yang perlu menyelesaikannya dan mengatasi hal tersebut. Tidak akan mudah, tapi pasti semua akan layak untuk diperjuangkan, Bu 🙂

Referensi:

https://www.mother.ly/health-wellness/self-care/self-care-is-not-enough-to-fix-how-much-moms-are-burnt-out/.

https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2018.01021/full.

https://www.choosingtherapy.com/mom-burnout/.

Irene

Sebagai lulusan arkeologi, Irene senang main ke lapangan dan blusukan ke tempat-tempat terpencil. Irene juga tertarik dengan digital marketing, content writing, dan fotografi. Untuk mengisi waktu luang, biasanya ia baca buku, jogging, menulis, nonton film dan series, dan kadang memilah sampah. Di akhir pekan, biasanya Irene ada di gunung atau latihan paralayang di Puncak.

Related
Mengatasi Savior Complex: Saat Menolong Orang Bikin Kewalahan 
Pentingnya Mengajarkan Sikap Tegas Pada Anak
Denial Feeling: Wajar, Tapi Bisa Berdampak Buruk 
Tags: #haloibu, #ibu, #menjadiibu
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid