DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Kerja Domestik Bukan Hanya Tanggung Jawab Ibu

Share:

Hingga saat ini, masih banyak orang beranggapan bahwa pekerjaan rumah tangga alias domestik adalah tanggung jawab. Padahal, pekerjaan ini tidak memandang jenis kelamin. 

Kerja domestik itu enggak gampang. Membersihkan rumah, merapikan mainan anak, mencuci dan menggosok pakaian hingga menyiapkan makanan setiap hari bisa membuat ibu kewalahan. Belum lagi, jika si kecil tantrum atau mogok makan. 

“Stres mengurus anak dan domestik? Lebay. Itu kan sudah jadi tanggung jawab kamu” 

Begitulah tanggapan orang-orang yang tidak memahami bahwa pembagian tugas dalam rumah tangga hanyalah produk patriarki. Budaya ini selalu menempatkan perempuan dalam ranah privat sehingga mereka didorong melakukan pekerjaan rumah. 

Tak hanya itu, budaya ini juga melihat laki-laki yang mengerjakan tugas domestik tidak memiliki sisi maskulinnya. Itulah mengapa banyak laki-laki yang tidak mau melakukan pekerjaan domestik, sekalipun mereka melihat istrinya sendiri kewalahan mengurus rumah. 

Forbes Woman pernah melakukan survei terhadap 1.200 ibu di Amerika. Sebanyak 92% responden mengaku kewalahan mengurus anak dan rumah. Mereka juga kesal dengan pasangannya karena semua pekerjaan domestik dibebankan kepadanya. 

Berbagi Tanggung Jawab dengan Ayah 

Meski sudah bekerja seharian di kantor, bukan berarti ayah bisa mengabaikan pekerjaan domestik dan menyerahkan sepenuhnya pada ibu. Sebab, pekerjaan domestik mestinya menjadi tanggung jawab bersama. 

Ada banyak hal sederhana yang bisa ayah lakukan setelah bekerja atau di saat libur. Contohnya, menjaga anak sehingga ibu bisa beristirahat atau merapikan meja makan setelah selesai makan. 

Pekerjaan domestik memang sebaiknya didiskusikan bersama. Bicarakan apa saja yang menjadi kesulitanmu dalam mengurus rumah. Dengan membicarakannya, paling tidak pasanganmu bisa memahami beratnya menjadi ibu.  

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membagi tugas domestik: 

1. Pahami Kesibukan Ayah 

Pekerjaan domestik tidak harus dibagi 50:50. Kamu juga perlu memperhatikan kesibukan ayah sebelum memintanya membereskan rumah.  

Jika Ia selalu sibuk di hari kerja, kamu bisa meminta bantuan di hari libur. Bicarakan bahwa kamu sering kewalahan mengurus rumah dan mengharapkan bantuannya.  

2. Buat Daftar Pekerjaan Yang Perlu Dilakukan Ayah 

Terkadang, laki-laki tidak peka dengan situasi rumah. Mereka tidak tahu bagaimana cara membuat rumah selalu rapi dan bersih. Maka, kamu bisa menjelaskannya apa saja pekerjaan yang bisa dilakukannya. 

Contohnya, membuat daftar pekerjaan untuk ayah seperti membersihkan halaman, mengelap kaca rumah, atau membersihkan karpet.  

Daftar ini akan mempertegas pembagian tugas domestik ibu dan ayah. Kamu juga tidak akan lagi mengharapkan ayah peka karena kini Ia sudah tahu tanggung jawabnya di rumah. 

3. Buat Jadwal Rutin 

Daftar pekerjaan rumah sebaiknya dilengkapi juga dengan jadwal. Contohnya, membersihkan halaman setiap hari Sabtu dan membersihkan toilet setiap Minggu. Jadwal rutin ini juga memudahkan ayah untuk meluangkan waktunya. Pastikan Ia tetap mendapatkan waktu untuk istirahat dan melakukan yang disukainya. 

4.  Jangan Mengkritik Hasil Pekerjaannya 

Bagi seseorang yang tidak terbiasa dengan pekerjaan domestik pasti akan sulit melakukannya. Jika kamu kurang menyukai cara pasanganmu membersihkan rumah, sebaiknya jangan langsung mengkritiknya. 

Supaya tidak memicu konflik, kamu bisa membicarakannya dalam suasana yang tenang dan santai. Bagaimanapun juga, kamu harus menghargai niat baiknya. Mungkin Ia masih perlu waktu agar terbiasa melakukan pekerjaan domestik. 

5. Beri Kepercayaan

Berbagi tugas domestik juga perlu kepercayaan. Kamu harus yakin bahwa ayah juga bisa berkontribusi dalam mengurus rumah. Berikan kepercayaan padanya untuk mengasuh anak atau melakukan beberapa pekerjaan domestik. Kepercayaan ini tidak akan membuatnya canggung atau kapok mengerjakannya. 

Referensi: 

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Mengatasi Savior Complex: Saat Menolong Orang Bikin Kewalahan 
Pentingnya Mengajarkan Sikap Tegas Pada Anak
Denial Feeling: Wajar, Tapi Bisa Berdampak Buruk 
Tags: #haloibu, #haloperempuan, #ibu, #menjadiibu, #perempuan, #perempuanbisa
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid