DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Apa Jadinya Cerita Film Ngeri-Ngeri Sedap Tanpa Perempuan?

Share:

Bu, sudah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap karya standup comedian, Bene Dion? Ngeri-Ngeri Sedap sudah hadir di bioskop Indonesia sejak 2 Juni. 20 harian tayang di layar lebar, film ini berhasil menarik 2 juta penonton ke bioskop. Salah satu pencapaian yang luar biasa ‘kan untuk film Indonesia? Memangnya, film ini soal apa sih?

Sinopsis Ngeri-Ngeri Sedap

Dengan latar belakang Danau Toba yang amboi, film ini merupakan film komedi keluarga yang menceritakan tentang adat keluarga Batak, yang hingga sekarang masih kental dengan adatnya.

Adalah Mak Domu dan Pak Domu, pasangan Batak yang tinggal di pinggir Danau Toba, memiliki empat orang anak. Mereka tinggal dengan anak kedua mereka, Sarma, satu-satunya anak perempuan yang mereka punya.

Sedangkan ketiga anak laki-lakinya, pergi merantau ke Pulau Jawa dan jarang pulang ke kampung. Akibatnya, Mak Domu-pun sangat merindukan ketiga anaknya itu. Selain kangen, rupanya ketiga anak ini harus pulang, karena ada pesta adat yang harus didatangi oleh mereka.

Usut punya usut, para anak laki-laki tidak mau pulang karena merasa tidak dekat dengan Pak Domu sebagai ayahnya. Berbagai carapun dilakukan agar ketiga anak laki-laki itu mau pulang ke kampung. Lalu, berhasilkah Mak Domu dan Pak Domu menghadirkan anak-anak mereka?

Cerita yang diambil dalam film ini sebetulnya bukan hal yang baru dalam perfilman Indonesia, tapi semuanya dikemas dengan rapi dan dialog yang mengalir dan enak didengar. Ditambah dengan pengambilan dan kualitas gambar yang baik, film ini rasanya menjadi tontonan wajib keluarga di liburan sekolah sekarang.

Terlepas dari teknis filmnya yang memang baik, cerita Ngeri-Ngeri Sedap juga menarik untuk dibahas lebih banyak. Bagaimana peran adat sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari keluarga Batak. Atau bagaimana peran perempuan dalam kehidupan masyarakat Batak yang patrilineal?

Peran Perempuan dalam Ngeri-Ngeri Sedap

Meski tidak menjadi isu utama yang diangkat, tapi peran perempuan dalam film Ngeri-Ngeri Sedap diperlihatkan secara gamblang melalui dialog yang ada. Peran utama perempuan dalam film ini berfokus pada tiga karakter, Mak Domu, Sarma, serta Ompung Domu (ibu dari Pak Domu). Tanpa membeberkan cerita film ini, Halomin mencoba bagaimana peran mereka dalam film ini yaa.

  1. Rela “menggadaikan” dirinya.

Dalam budaya Batak, anak terakhir akan diwariskan rumah oleh orang tuanya, sehingga dirinya yang seharusnya berada di kampung halaman dan merawat orang tuanya. Namun di film ini, peran ini diambil oleh Sarma, sebagai anak satu-satunya yang tinggal di kampung halaman. 

Peran yang seharusnya dijalankan oleh anak paling terakhir untuk merawat Pak Domu dan Mak Domu, serta merawat seluruh rumah, akhirnya diambil olehnya. Untuk menjalankan peran ini, tentunya ada banyak pengorbanan Sarma yang menjadikan dirinya melupakan jati diri dan impiannya.

  1. Ibu akan selalu menjadi tempat berpulang.

Di dalam konflik yang dibangun sepanjang film, diperlihatkan banyak karakter yang mengalami berbagai masalah. Namun, berbagai karakter laki-laki yang mengalami masalah ini, selalu mengalami kebuntuan untuk menyelesaikan masalahnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa diperlihatkan mereka pulang ke rumah masa kecilnya dan menemui ibu mereka untuk meminta pendapat atau hanya sekadar menenangkan hati dan pikirannya. Di sini penonton akan diingatkan kembali, bahwa apapun yang terjadi, seorang laki-laki dewasa tetap akan menjadi anak kecil di hadapan ibunya.

  1. Ibu yang menyatukan semuanya.

Konflik yang dialami oleh keluarga Domu, rasanya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Rasanya, konflik itu tidak hanya dialami oleh keluarga Batak saja, tapi juga banyak keluarga di Indonesia, bahkan mungkin di Asia.

Ibu memiliki peran yang sangat penting untuk menyelesaikan konflik yang ada. Dengan berbagai cara yang dilakukannya, ibu berhasil menyelesaikan konflik yang terjadi di dalam keluarga, bahkan menyatukan yang sempat tercerai.

  1. Perempuan memegang “kendali”.

Meski adat Batak bersifat patrilineal, dalam beberapa adegan dan dialog, tampak sekali bahwa para laki-laki Batak juga tetap menghargai dan menghormati para perempuan yang ada dalam hidup mereka.

Meski perempuan ditinggikan, bukan berarti perempuan memperlakukan laki-laki dengan semena-mena. Yang terjadi justru perempuan juga menghormati para laki-laki. Wujud menghormati itu tampak dalam sikap yang mendukung berbagai keputusan yang ada.

Meski kadang ada keputusan yang tidak sesuai dengan pendapat mereka, para perempuan akan menyampaikan pendapatnya dengan sopan tanpa menimbulkan konflik baru. Pada akhirnya, penyelesaian konflik dengan damai yang dipilih perempuan, justru dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

Film Ngeri-Ngeri Sedap menjadi salah satu film keluarga yang wajib ditonton. Meski tidak berasal dari keluarga Batak, cerita dan konflik yang disajikan rasanya cukup dekat dengan penonton keluarga dari Indonesia.

Menyajikan tawa dan haru yang seimbang, film ini akan menjadi sajian hangat yang dapat mengisi waktu anak-anak Ibu saat libur sekolah sekarang. Mumpung masih tersedia di bioskop terdekat, yuk kita majukan bersama perfilman Indonesia, Bu!

Irene

Sebagai lulusan arkeologi, Irene senang main ke lapangan dan blusukan ke tempat-tempat terpencil. Irene juga tertarik dengan digital marketing, content writing, dan fotografi. Untuk mengisi waktu luang, biasanya ia baca buku, jogging, menulis, nonton film dan series, dan kadang memilah sampah. Di akhir pekan, biasanya Irene ada di gunung atau latihan paralayang di Puncak.

Related
Mengatasi Savior Complex: Saat Menolong Orang Bikin Kewalahan 
Pentingnya Mengajarkan Sikap Tegas Pada Anak
Denial Feeling: Wajar, Tapi Bisa Berdampak Buruk 
Tags: #filmindonesia, #haloibu, #haloperempuan, #ibu, #menjadiibu, #parenthood, #rekomendasifilm
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid