DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Stillbirth Bukan Hanya Soal Kehilangan, Kondisi Mental Ibu Juga Terganggu

Share:

Belum lama ini kita mendengar kabar duka dari pesepak bola Cristiano Ronaldo. Pada 19 April lalu, salah satu bayi kembar yang dikandung istri Ronaldo, Georgina Rodriguez dikabarkan telah meninggal. Satu bayinya berhasil dilahirkan selamat, tetapi kondisi ini tidak serta merta membuat Ronaldo dan Georgina terlepas dari perasaan kehilangan. 

Stillbirth selalu menimbulkan duka mendalam, trauma, bahkan depresi bagi kedua orang tua bayi. Terlebih bagi seorang ibu yang telah mengandungnya selama berbulan-bulan. Setelah mengetahui bayi yang masih di dalam kandungan tidak dapat diselamatkan atau meninggal sebelum dilahirkan, seorang ibu merasa sedih yang bisa berubah menjadi stres, bahkan depresi. 

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam American Journal Obstetrics and Gynecology, selama  sembilan bulan setelah mengalami stillbirth, 18% perempuan mengalami trauma, 17% merasa cemas, dan 6% mengalami depresi. Studi ini dilakukan dengan melibatkan 737 responden. 

Ibu yang Mengalami Stillbirth Butuh Dukungan 

Ibu yang mengalami stillbirth ibarat tertimpa musibah dua kali. Mereka harus merelakan bayi yang sudah tiada serta berdamai dengan diri sendiri agar tidak dihantui rasa bersalah karena tidak berhasil melahirkan anak yang selama ini dinantikannya. Parahnya, mereka tidak selalu mendapat dukungan dari sekitar.  

Tommy’s, organisasi di Inggris yang berfokus pada riset penyebab keguguran dan lahir prematur pernah melakukan survei mengenai ibu yang mengalami depresi karena stillbirth. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar ibu merasa tidak didukung secara psikologis ketika harus menghadapi stillbirth. Bahkan, fasilitas kesehatan yang biasa digunakan juga tidak menawarkan pertolongan psikiatris untuk memulihkan kondisi mental mereka. 

Di Indonesia, mitos mengenai kehamilan dan kematian janin juga turut memperparah kondisi mental ibu pasca stillbirth. Masyarakat kita masih percaya bahwa kehamilan tidak boleh dipublikasikan sebelum berusia 3 bulan. Hal ini juga berlaku bagi janin yang meninggal sebelum atau setelah dilahirkan. Kabar duka ini tidak boleh diceritakan kepada siapa pun dalam kurun waktu tiga bulan. 

Padahal, perasaan sedih dan kehilangan yang dialami seorang ibu harus dicurahkan kepada orang lain, bukan malah dipendam bersama suami dan keluarga. Kondisi ini bisa memperparah kesehatan mental ibu jika perasaan sedih itu dibiarkan berlarut-larut. 

Jangan Biarkan Kesedihan Merusak Hari-harimu yang Indah 

Selama masa kesedihan masih berlangsung, sebaiknya temui keluarga atau teman yang bisa mendukungmu melewati masa-masa sulit tersebut. Sebab, kesedihan bisa berubah menjadi depresi jika tidak segera ditangani. 

Kalau dengan bercerita saja masih belum bisa membuatmu lebih baik, segera pergi ke psikiater atau psikolog untuk konseling. Mereka akan membantu memulihkan kesehatan mentalmu. 

Menerima takdir bahwa kita tidak bisa hidup bersama anak yang selama ini kita inginkan memang sulit ya, bu. Namun, kehidupan terus berjalan sehingga kita tidak bisa selamanya melihat ke belakang. Sebagai makhluk perasa, merasa sedih dan menyesal itu wajar kok. It’s ok kalau kamu butuh waktu untuk sepenuhnya menerima kenyataan tersebut. 

Setelah itu, berjanjilah untuk menjalani kehidupan seperti biasa karena masih ada hari-hari indah yang harus kamu nikmati, bu. 

Referensi: 

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Kenali Gejala Hepatitis Akut, Penyakit Yang Menyerang Anak Dan Mulai Mewabah Di Dunia 
Kenali 4 Fase Quarter Life Crisis, Kamu Ada Di Tahap Mana?
Melihat Kepribadian Seseorang Dari Aroma Parfum
Tags: #anak, #berduka, #grieving, #haloibu, #ibu, #ibuanak, #keguguran, #kelahiran, #kematian, #menjadiibu, #motherhoodjourney, #motherhoodrising, #stillbirth
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid