DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Memahami Perbedaan Miscarriage & Stillbirth

Share:

Halo ibu, apa kabar? Bu, tahu enggak sih kalau kematian janin itu tidak selalu disebut miscarriage atau keguguran? 

Hampir semua kasus kematian janin disebut miscarriage, padahal tidak semuanya bisa kita katakan keguguran. Selain miscarriage, ada juga istilah stillbirth yang merujuk pada kondisi janin meninggal. Lalu, apa bedanya? 

Perbedaan antara miscarriage dan stillbirth terletak pada usia kehamilan ibu. Miscarriage pada umumnya terjadi sebelum kandungan memasuki usia 20 minggu dengan berat janin di bawah 400 gram. Sementara itu, stillbirth umumnya terjadi ketika usianya sudah di atas 20 minggu, bahkan sesaat sebelum melahirkan stiilbirth juga mungkin terjadi.  

Mengutip Medicinenet, sekitar 1% dari seluruh kehamilan yang ada di Amerika mengakibatkan stillbirth. Setidaknya, ada 24 ribu kasus stilllbirth yang tercatat setiap tahunnya. 

Miscarriage terjadi karena pola hidup yang tidak sehat dan terjadi masalah pada perkembangan janin. Sedangkan stillbirth pada umumnya disebabkan karena plasenta yang tidak berfungsi dengan baik, usia kehamilan yang sudah melewati batas waktu normal, serta terdapat kelainan kromosom pada janin sehingga pertumbuhannya terhenti. 

Gejala miscarriage dan stillbirth juga berbeda. Miscarriage biasanya ditandai dengan perdarahan yang keluar dari vagina. Kondisi ini menyebabkan ibu mengalami rasa nyeri luar biasa di bagian bawah perut atau punggung.  

Berbeda dengan miscarriage, gejala stillbirth cukup sulit diketahui jika ibu kurang peka dengan pergerakan bayi di dalam kandungan. Deteksi dini bisa diketahui ketika ibu tidak lagi merasakan pergerakan bayi. Selanjutnya, ibu bisa memeriksanya melalui USG untuk melihat apakah jantung bayi masih berdetak atau tidak. 

Upaya Menghindari Miscarriage dan Stillbirth 

Pada dasarnya, baik miscarriage dan stillbirth sulit dicegah. Namun, ibu bisa mengurangi faktor risiko yang dapat memicu terjadinya miscarriage dan stillbirth. Berikut beberapa upaya untuk mengurangi faktor risiko: 

1. Istirahat yang Cukup 

Istirahat adalah hal penting bagi setiap ibu hamil untuk menjaga janin agar tetap tumbuh sehat. Setelah memasuki usia 20 minggu kehamilan, usahakan untuk selalu tidur dengan posisi ke samping agar mengurangi risiko stillbirth.  

Berdasarkan penelitian dalam National Health Service, tidur dengan posisi terlentang beberapa minggu sebelum melahirkan dapat meningkatkan risiko kematian bayi hingga dua kali lipat. 

2. Pemeriksaan Rutin Selama Hamil 

Pemeriksaan rutin dengan tenaga medis dapat mengurangi risiko miscarriage dan stillbirth. Dengan pemeriksaan medis, berbagai gejala yang menunjukkan kelainan atau masalah kehamilan dapat segera terdeteksi. Baik dokter maupun bidan juga akan memberikan penanganan medis jika diketahui terdapat gejala yang dapat membahayakan janin. 

3. Menerapkan Pola Hidup Sehat  

Bu, kalau kamu penggemar makanan instan dan junk food, sebaiknya kurangi dulu, deh selama hamil. Sebab, makanan-makanan tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan janin hingga memicu masalah kesehatan yang serius. Selama hamil, sebaiknya perbanyak konsumsi buah dan sayur. Kemudian, luangkan waktu untuk berolahraga dengan intensitas ringan seperti yoga dan berenang. 

 Referensi: 

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Tips Lindungi Anak Dari Pelecehan Seksual
Perjuangan Menjadi Ibu Baru Dan Tips Menghadapinya 
Menjaga Paru-paru Dari Polusi Udara Jakarta Yang Tiada Akhir 
Tags: #anak, #grief, #grieving, #haloibu, #ibu, #janin, #keguguran, #miscarriage, #motherhood, #motherhoodjourney, #motherhoodtransition, #stillbirth, #transisi
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid