DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Penyebab Seseorang Melakukan Pemerkosaan

Share:

Kasus Ayah perkosa anak kandung di Semarang membuat kita bertanya-tanya apa yang membuat pelaku tega melakukan hal keji tersebut. Terlebih, pelaku memaksa korban yang masih berusia 8 tahun berhubungan seksual dengannya hingga kejang-kejang dan meninggal dunia. 

Stigma yang memandang rendah perempuan dan sebagai objek kepuasan seksual rasanya tidak cukup menjadi alasan kasus pemerkosaan. Kita juga perlu mengetahui keterkaitannya dengan berbagai aspek seperti biologis, lingkungan serta pengalaman masa lalu dari para pelaku. 

Dari aspek biologis, dorongan untuk melakukan kekerasan seksual sangat erat kaitannya dengan ketidakmampuan otak menahan perilaku agresif. Bagaimana pun juga, berhubungan intim secara paksa adalah perilaku agresif yang harus dikontrol. Fakta ini dijelaskan dalam studi yang dimuat di Indian Journal of Psychiatry tahun 2013. Studi tersebut menjelaskan bahwa adanya kerusakan di otak membuat individu tidak bisa mengontrol perilaku agresifnya sehingga keinginan untuk berhubungan intim tidak bisa tertahan lagi. 

Dari aspek lingkungan, pelaku mungkin saja bergaul dengan orang-orang yang juga pernah melakukan kekerasan seksual. Sementara itu, ras dan daerah tempat tinggal sama sekali tidak ada kaitannya dengan motif pelaku pemerkosaan. 

Pengalaman masa lalu tentu turut berkontribusi atas kasus pemerkosaan. Pelaku yang berasal dari kondisi keluarga tidak harmonis dapat membuatnya sulit berempati terhadap orang lain. Dari kasus perkosa di Semarang kita tahu bahwa pelaku bercerai dengan mantan istrinya, sementara Ia tinggal sendiri dan anak-anak ikut dengan ibunya.  

Keluarga yang berantakan menyebabkan seseorang sulit berempati sehingga akan membuatnya mengabaikan kesepakatan dan keinginan perempuan di hadapannya. Untuk diketahui, berhubungan intim dianggap sebagai kekerasan seksual jika terdapat salah satu pihak yang tidak sepakat melakukannya. 

Tingkat empati laki-laki memang sangat menentukan apakah mereka dapat mengontrol perilaku agresifnya atau tidak. Sama seperti yang dijelaskan dalam studi Neil Malamuth, laki-laki yang sering menonton film porno tidak akan melakukan kekerasan seksual jika mereka memiliki tingkat empati yang tinggi. 

Tidak Semua Laki-laki Memahami Konsensual Seks 

Maraknya kasus pemerkosaan diiringi dengan tidak pahamnya mengenai konsensual seks. Para pelaku cenderung tidak memahami bahwa hubungan seks yang dilakukan tanpa persetujuan pihak kedua merupakan bentuk kekerasan yang bisa dipidanakan. Tak hanya itu, pemerkosaan juga merugikan perempuan dari segi moril, fisik, hingga berdampak pada kesehatan mental korban. 

Mengutip The New York Times, para pelaku pemerkosaan di Amerika tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan kekerasan terhadap korban. Padahal, mereka sadar kalau hubungan intim yang mereka lakukan tanpa persetujuan korban.  

Pemahaman tentang konsensual seks tentu berkaitan dengan minimnya pendidikan seks di tengah masyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita saat ini masih menganggap seks adalah hal yang tabu untuk dibicarakan.  

Pelaku Juga Korban Budaya Konservatif 

Kita memiliki kesamaan budaya dengan India di mana membicarakan seks kepada anak-anak dianggap dapat merusak pola pikir mereka. Sama seperti di Indonesia, masyarakat India juga masih canggung dan jarang sekali menyebut kata penis, vagina, atau seks dalam konteks diskusi yang serius. 

Budaya konservatif seperti itu pada akhirnya melahirkan individu yang tidak sensitif dengan isu seks. Menurut studi Madhumita Pandey dari Ruskin University, Inggris, pelaku pemerkosaan sebetulnya merupakan korban dari budaya patriarki dan toxic masculinity. Mereka menerima pemahaman yang salah mengenai maskulinitas di mana laki-laki dianggap harus memiliki kuasa atas perempuan dan lebih unggul dibanding perempuan. 

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Kenali Gejala Hepatitis Akut, Penyakit Yang Menyerang Anak Dan Mulai Mewabah Di Dunia 
Kenali 4 Fase Quarter Life Crisis, Kamu Ada Di Tahap Mana?
Melihat Kepribadian Seseorang Dari Aroma Parfum
Tags: #anak, #ayahanak, #biologis, #domesticviolence, #haloibu, #indonesia, #kekerasan, #kekerasanrumahtangga, #kekerasanseksual, #menjadiayah, #menjadiibu, #pemerkosaan, #psikis, #sexualviolence
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid