DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Bagian Roti Lapis

Share:

Siapa yang suka sandwich atau roti lapis? Eits, ternyata tidak semua sandwich itu mengenyangkan ada juga yang mendewasakan, yaitu Sandwich Generation

Halo Ibu,aku mau berbagi cerita nih, dari kecil rasanya aku nggak bisa lepas dari yang namanya perjuangan. Aku tumbuh di tengah keluarga besar untuk ukuran jaman sekarang, aku memiliki kakak dan banyak adik. Kesulitan ekonomi seakan menjadi tantangan di tempat aku bertumbuh. Berkat kegigihan, akhirnya aku bisa bekerja dan membantu keuangan keluargaku, tapi rasanya tidak pernah ada cukupnya. 

Saat ini aku sudah berkeluarga dan sesekali adik dan orang tuaku hadir di rumahku. Secara perekonomian aku (sekarang bersama dengan suami) masih menanggung kehidupan keluarga. Aku memiliki seorang bayi yang belum genap setahun usianya. Di satu sisi, ingin aku rasanya mengurus anakku sepenuhnya, namun aku belum bisa karena harus bekerja dan memiliki tanggung jawab keuangan bersama suami. 

Tidak hanya secara finansial yang belum stabil, namun memiliki keluarga besar ternyata memang berpotensi banyak masalah dan dikarenakan aku termasuk anak yang lebih tua, maka hidupku tidak lepas dari permasalahan tersebut dan tidak jarang aku mengalah atau mengorbankan keluarga kecilku. Suamiku cukup pengertian dengan kondisi ini dan kami menjalaninya bersama, namun aku tidak sanggup seandainya anakku nanti harus mengalami kondisi seperti yang kualami saat ini. Aku harus bagaimana ya bu?

Ibu G, 28 tahun, Bogor.

Beberapa tahun terakhir, ada satu istilah yang trend di kalangan milenial, yaitu Sandwich Generation. Bermula dari sebuah konten finansial yang viral di media sosial, hingga akhirnya terminologi ini menjadi familiar. Generasi sandwich atau digambarkan sebagai kondisi di mana seseorang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan orang tua/ keluarga, kebutuhan diri, dan keluarga intinya saat ini. Yang banyak dipahami, beban yang dirasakan adalah secara finansial, yang kerap luput adalah tidak jarang dalam lapisan ini kerap bertanggung jawab pula terhadap berbagai permasalahan yang hadir. Ehm, tapi apakah kondisi ini harus terjadi kembali kepada anak turun temurun? 

Menjadi lapisan, Bukan kesalahan

Ibu, kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan maupun di mana kita akan bertumbuh. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu dan juga terlalu khawatir akan masa depan. Yang sepenuhnya kita miliki adalah waktu di saat ini. Tidak mungkin untuk mengontrol sesuatu yang di luar kuasa diri, yang bisa kita kelola sepenuhnya adalah upaya diri sendiri. Hal yang terjadi pada kita, mungkin tidak nyaman dan menyenangkan, tapi itu semua bukan kesalahan kita dan bukan berarti kita tidak dapat keluar dari kondisi yang demikian. Yuk, kita fokus kepada hal-hal yang dapat kita lakukan. 

Berdamai dengan Realita

Banyak hal yang bisa menjadikan kita bagian dari lapisan sandwich generation, entah hidup dalam keluarga besar, memiliki tanggungan finansial tertentu karena sebuah kondisi yang tidak diinginkan (bangkrut maupun hutang besar), kondisi kesehatan anggota keluarga yang membutuhkan biaya penyembuhan yang besar, kehilangan orang tua sejak dini, dan lain sebagainya.  Menjadi bagian dari lapisan sandwich bukan berarti selamanya kita akan terjebak dan mencari penyebab maupun menyalahkan orang tua tentunya tidak akan membuahkan solusi. Kita perlu berdamai dengan kondisi yang ada dan fokus menyusun langkah nyata untuk menyelesaikan hal yang mungkin bukan sepenuhnya tanggung jawab kita, tapi karena satu dan lain hal akhirnya terlimpah pada kita. Kita perlu menyadari bahwasanya mungkin kondisi kita berbeda dengan teman-teman, tapi perlu dipahami bahwa kita tidak sendirian mengalaminya. 

Pengalaman yang Mendewasakan

Ketika pada umumnya, seorang akan bertanggung jawab terhadap kondisi keuangan di usia 20an atau setelah lulus jenjang pendidikan tertentu, seorang yang berada di tengah himpitan sandwich generation harus memikul beban finansial dari usia yang relatif lebih muda. Tidak hanya itu, keadaan yang tidak ideal tersebut juga memaksa untuk mendewasa sebelum waktunya. Meski demikian, ketika ada kalanya menghadapi permasalahan dan beban yang terasa terlalu berat untuk ditanggung, tidak ada salahnya untuk rehat dan mencari bantuan yang dibutuhkan, baik secara fisik, mental, maupun finansial, baik secara personal melalui support system terdekat, hingga yang professional di bidangnya sesuai dengan kebutuhan. 

Bagian dari Solusi, Memutus Rantai

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi sandwich generation ini antara lain; mencari skill dan knowledge yang dibutuhkan dan terjangkau untuk kian meningkatkan pendapatan secara finansial. Pendidikan dan keterampilan dapat diperoleh baik melalui institusi formal (sekolah, kursus, dsb), serta non formal (pengalaman kerja langsung, media pembelajaran online, dll). Hal penting yang perlu dimiliki pula adalah belajar terkait perencanaan keuangan sejak dini. Bagaimana mengatur pendapatan, pengeluaran, investasi maupun pengelolaan keuangan di masa mendatang. Selanjutnya, penting pula memiliki proteksi terkait dengan kesehatan maupun jiwa sebagai antisipasi berbagai hal yang mungkin terjadi di masa mendatang. 

Adalah hal yang wajar, jika seseorang yang berada dalam sandwich generation tidak ingin penerusnya mengalami kendala dan kesulitan yang dihadapinya atau menjadi beban bagi keturunannya di masa mendatang. Untuk ini, perencanaan yang baik tentu perlu dilakukan dengan disepakati bersama pendamping (pasangan atau significant other lain). Penting untuk mengedukasi anak sejak ini makna dari berjuang dan mengajarkan kemandirian yang sesuai dengan tahapan usianya, di sisi lain penting juga untuk tidak selalu mengorbankan keluarga inti yang kini dimiliki bagaimanapun kita berharap di masa depan anak dan pasangan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik tentunya.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah tetap mengasihi dan mencintai diri sendiri. Kerap terjadi karena terlalu memikirkan banyak hal hingga abai terhadap keinginan dan kebutuhan diri. Investasi terbesar bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri. Dengan kondisi yang utuh dan penuh, tentu lebih banyak hal yang dapat dilakukan. Cintai keluargamu secukupnya dan tetap cintai dirimu seutuhnya.

Tetap semangat kepada semua pejuang sandwich generation. Ada kalanya hidup memang tidak mudah, tapi ingat kamu tidak sendirian dan kamu pasti dapat melaluinya. 

Source:

https://money.kompas.com/read/2020/07/20/112105626/mengenal-sandwich-generation-yang-banyak-dijumpai-di-negara-berkembang?page=all

https://finansial.bisnis.com/read/20190507/55/919603/cara-memutus-mata-rantai-sandwich-generation

https://www.bbc.com/worklife/article/20210128-why-the-sandwich-generation-is-so-stressed-out

https://www.oscarsenior.com/blog/how-to-cope-with-being-a-part-of-sandwich-generation

https://www.investopedia.com/terms/s/sandwichgeneration.asp

Aline Widiyanti

a writer, freelancer, mother of one daughter

Related
Break the pattern about menstruation, Menstruation is not taboo
Kartini, Sebuah Warisan Bagi Perempuan
Because You are Great!
Tags: #empoweringmothers, #empoweringwomen, #haloibu, #haloperempuan, #sandwichgeneration
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid