DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Motherhood Journey
Your Motherhood Journey

WFH sambil SFH di Masa Social Distancing

Share:

Halo Ibu!

Apa kabar social distancing nya? Semoga masih sehat jiwa dan raga yah!

Hari ini saya genap memasuki hari ke-21 social distancing. Perusahaan tempat saya bekerja memberlakukan work from home (WFH) sejak minggu ke-2 bulan Maret sampai tanggal 19 April 2020 mendatang. Bisa jadi diperpanjang hingga batas waktu yang belum ditentukan.

WFH sambil memastikan proses school from home (SFH) Rara, putri saya yang berusia 4 tahun, berjalan baik bukanlah hal mudah untuk saya. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan, terutama dalam hal mindset. Berikut ini adalah beberapa hal yang membantu saya survive

  1. Mengenali Kebutuhan Saya

Sebagai introvert, harus bersama putri saya yang ekstra extrovert 24 jam sehari adalah tantangan tersendiri. Jadi, saya selalu menyisihkan waktu untuk bisa sendirian. Bangun lebih awal untuk meditasi, menulis jurnal, atau sekadar mendengarkan musik. Kegiatan ini penting untuk saya betul-betul memahami apa yang perlu saya lakukan supaya merasa tenang dan bahagia. Ini adalah waktunya mengenali semua emosi yang datang; khawatir, sedih, bosan, frustrasi, dan lain sebagainya. Semua emosi ini harus dibiarkan hadir dan diakui seutuhnya.

Lewat proses ini saya akhirnya memilih mengerjakan proyek yang sudah lama tertunda, yakni mendekorasi ulang rumah. Untungnya, semua vendor interior sekarang melayani pemesanan online. Hati senang, rumah pun lebih enak dipandang.

2. Mengenali Kebutuhan Anak

Sebaliknya, Rara si extrovert membutuhkan lebih banyak stimulus menghadapi situasi yang tidak biasa ini. Ia kesepian karena tidak bisa bersekolah dan bermain dengan teman-teman sebebas sebelumnya. Karena belum bisa sepenuhnya memahami, ia mengeskpresikan dengan menjadi lebih rewel dari biasanya.

Jadi, saya memastikan dosis bersosialisasi Rara setiap harinya terpenuhi, meski pasti tak sempurna. Setiap pagi, kami berjalan-jalan keliling komplek sambil menyapa tetangga. Saya juga menghubungi orangtua beberapa sahabat Rara supaya anak-anak kami bisa video call untuk beberapa waktu. Saya lebihkan budget untuk membeli peralatan art & craft, board games, dan kegiatan dalam ruang lainnya. Saya bahkan membeli body paint dan belajar membuat face painting untuk menghiburnya. Lumayan, jadi punya skill baru 😊

3. Berkomunikasi

Saya harus membuat Rara mengerti bahwa ibunya di rumah untuk bekerja, bukan liburan. Karenanya, ia tidak boleh menginterupsi ketika saya sedang skype call, atau ketika sedang harus konsentrasi menyelesaikan laporan. Kami bisa sarapan dan makan siang bersama, saya juga bisa menemaninya belajar dan sesekali bermain, tapi akan ada waktu- waktu khusus di mana ia perlu membiarkan saya sendirian.

Setiap pagi, saya membrief Rara tentang jadwal kami. Jam berapa saja kami harus mengerjakan PR dari sekolah, membuat art & craft, berolah raga, dan kapan waktunya saya tidak boleh diganggu sama sekali.

4. Have a Routine, then Let It Go

Jadwal ideal saya adalah memulai hari dengan meditasi, work out, jalan-jalan kemudian mandi, sarapan dengan Rara, menemaninya belajar, mengirimkan laporan kegiatan pada guru Rara, kemudian bekerja hingga siang, makan siang, bekerja lagi hingga sore, kemudian menemani Rara bermain hingga malam.

Tapi, tak jarang jadwal ini harus berubah total. Misalnya, ketika saya harus ada sykpe call pagi sekali. Atau, ada pekerjaan urgent yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Jika sudah begitu, ya sudah, saya harus fleksibel dan menyusun ulang jadwal hari itu.

5. Menurunkan Ekspektasi

Let’s face it. Kita tidak mungkin bisa seahli guru-guru anak kita di sekolah. Kita pun tak mungkin melakukan pekerjaan kita tanpa harus multitasking dengan hal lain di rumah. Jangan mematok standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri. Tak masalah jika setelah masa social distancing ini selesai kita tak jadi se-fit Nana Mirdad atau sejago masak seperti Chef Renata. Kita sedang memastikan semua aspek hidup keluarga kita berjalan sebaik mungkin dalam situasi yang begitu tidak ideal. We’re trying to keep everybody alive. If we can get out of this healthy and happy, that’s enough, Ibu.

Pada akhirnya, kita pasti memiliki cara sendiri untuk menghadapi periode yang penuh ketidak pastian ini. Lakukan apa pun yang akan membuat keluarga Ibu nyaman dan aman. Utamakan kesehatan dan kewarasan bersama.

Tetap sehat dan bahagia ya Ibu. We’re in this together.

Mutia

A mother, writer, entrepreneur and marketer, wishing to empower.

Related
Menyembuhkan Luka, Putus Rantai Duka
IBU : Karir Sepanjang Hidup
Anti Kode-Kode Club
Tags: #ceritaibu, #empoweringmothers, #haloibu, #menjadiibu, #workingfromhome, #workingmom
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid