DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Mengenal Peripartum Depression dan Apa Risikonya Jika Tidak Diobati

Share:

Menimang buah hati rasanya menjadi impian bagi kebanyakan pasangan yang sudah menikah. Namun, perlu diketahui dan disadari, hadirnya buah hati akan membawa berbagai perubahan, baik positif dan negatif. Perubahan ini termasuk perubahan bentuk badan, kebiasaan sehari-hari, hingga perubahan pada tempat tinggal yang aman untuk si kecil.

Perubahan-perubahan itu bisa jadi mengejutkan dan melelahkan, terutama di masa-masa awal. Sayangnya, perubahan pascamelahirkan ini bisa jadi membawa ibu, bahkan ayah, ke berbagai hal, salah satunya Post-Partum Depression (PPD).

Beberapa saat lalu, saya membaca sebuah artikel dari CNN terkait dampak PPD pada banyak ibu di Thailand. Menurut ahli dan artikel tersebut, salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan meningkatkan kepedulian, mengetahui bagaimana cara mengatasinya, dan menghilangkan stigma di masyarakat pada orang tua yang mengalami PPD. Makanya, di artikel kali ini, Haloibu ingin mengajak Ibu dan Perempuan semua untuk memahami apa itu PPD dan bagaimana sebaiknya kita bersikap jika salah satu kenalan kita mengalaminya.

Mengenal Peripartum Depression

Peripartum Depression merupakan fase depresi yang dialami sejak masa kehamilan dan/atau setelah melahirkan. Sebelumnya, penyakit ini lebih dikenal dengan nama PPD, tapi berdasarkan info dari American Psuchiatric Association, nama ini tidaklah tepat, karena fase depresi tidak hanya dimulai setelah melahirkan, tapi juga sejak masa kehamilan.

Meski terdengar seram, tapi sebetulnya persoalan ini bisa diatasi dengan pengobatan medis dan psikologis. Berdasarkan penelitian pada tahun 2013, 16% perempuan dianggap mengalami gejala Peripartum Depression dan 17% lainnya mengalami setelah melahirkan. Hal ini diketahui dari meingkatkan detak jantung, obsesi, perasaan takut yang irasional. Selain itu, tanda-tanda seperti kehilangan energi serta minat pada hal-hal yang disukai, merasa bersalah, menangis tanpa sebab, pikiran negatif yang berlomba-lomba, halusinasi, merupakan hal yang harus diwaspadai, karena dapat membawa efek yang lebih berbahaya, seperti menyakiti diri sendiri dan anak.

Setidaknya, satu dari sembilan sampai 10 orang ibu mengalami hal ini. Gangguan ini dapat terjadi salah satunya karena perubahan hormon estrogen dan progesteron, di mana ketika hamil jumlah hormon ini meningkat dan menurun secara drastis setelah melahirkan. Beberapa ahli mengatakan perubahan hormon yang drastis ini dapat menyebabkan depresi. Hal lain yang mungkin menjadi penyebabnya antara lain karena kurangnya waktu istirahat, adanya keraguan menjadi ibu, stres, dll.

Peripartum Depression tidak hanya dialami oleh ibu, tapi juga dapat dialami oleh ayah. Tanda-tanda yang dialami sebetulnya tidak jauh berbeda dengan yang dialami para ibu. Untuk tahu lebih banyak mengenai Peripartum Despression pada ayah, ibu bisa membacanya di artikel Haloibu, “Postpartum Depression (PPD) on Fathers”.

Beberapa Cara untuk Mengatasi Peripartum Depression

Jika ibu ataupun ayah dirasa memiliki gejala-gejala di atas, tentu tidak ada salahnya untuk mengunjungi psikolog dan dokter. Satu hal yang perlu diingat, jangan pernah membuat diagnosis sendiri, karena dapat berakibat fatal pada penanganannya.

Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang dilakukan oleh tenaga medis. Tes ini memang didesain untuk skrining awal pada pasien yang diduga mengalami Peripartum Depression. Meski telah mengetahui hasil tes, perlu dilakukan evaluasi klinis dari tenaga medis untuk diagnosis dan rencana pengobatan.

Tenaga medis memiliki beberapa cara untuk mengatasi Peripartum Depression. Pertama ada terapi dan psikoterapi yang dilakukan dengan psikolog, psikiater, ataupun petugas sosial untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Kedua, ada juga penanganan dengan obat-obatan, yang didapat dengan resep dokter. Selain itu, ada juga Electroconvulsive Therapy (ECT), yang digunakan untuk kasus-kasus yang ekstrim.

Bagaimana Lingkungan Sekitar dapat Membantu Penderita Peripartum Depression

Terkadang, penderita Peripartum Depression tidak menyadari bahwa dirinya mengalami hal ini. Maka dari itu, dibutuhkan lingkungan yang suportif, bukan hanya pada orang tua yang diduga mengalami Peripartum Depression, tapi juga seluruh orang yang baru menjadi orang tua.

Lingkungan sekitar, keluarga, tetangga, ataupun teman, dapat mengetahui gejala-gejala yang mungkin sudah tampak dalam diri orang tua baru. Selanjutnya, lingkungan sekitar dapat memberikan waktu dan ruang untuk mendengarkan apa yang dirasakan oleh para orang tua baru dan mendukungnya untuk mengunjungi tenaga profesional.

Dukungan lain juga dapat diberikan, misalnya sesekali membantu para orang tua baru untuk menjaga anak, sehingga mereka bisa memiliki waktu istirahat sejenak. Bantuan untuk menjaga rumah selama mereka berlibur, juga bisa sangat membantu. Yang pasti, pastikan bahwa diri kita ada untuk membantu mereka yang membutuhkan bantuan.

Mengingat betapa seriusnya gangguan ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan. Selama masa hamil, pastikan dokter juga memerhatikan tanda dan gejala Peripartum Depression yang bisa saja sudah muncul, apalagi jika sebelumnya memiliki riwayat medis seperti bipolar dan depresi. Setelah melalui kelahiran, bisa juga dilakukan skrining awal terkait tanda dan gejala Peripartum Depression, sehingga dampaknya dapat diminimalisir.

Magoffin, yang telah menjalani hidup bersama pasangannya selama 10 tahun, terpaksa harus mengalami kenyataan pahit karena Peripartum Depression yang merenggut nyawa istri dan anaknya. Kini, ia mendirikan satu yayasan untuk meningkatkan kepedulian pada Peripartum Depression.

Tentunya kita tidak mau hal serupa terjadi di lingkungan sekitar kita. Maka dari itu, edukasi dan peningkatan kepedulian Peripartum Depression menjadi penting untuk diberikan pada para calon orang tua dan tentunya lingkungan pendukungnya, sejak masa kehamilan, setelah melahirkan, dan setelahnya.

Referensi:

https://edition.cnn.com/2022/05/04/uk/as-equals-post-partum-depression-intl-cmd/index.html.

https://www.psychiatry.org/patients-families/postpartum-depression/what-is-postpartum-depression.

https://www.womenshealth.gov/mental-health/mental-health-conditions/postpartum-depression.

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-depression/symptoms-causes/syc-20376617.

Irene

Sebagai lulusan arkeologi, Irene senang main ke lapangan dan blusukan ke tempat-tempat terpencil. Irene juga tertarik dengan digital marketing, content writing, dan fotografi. Untuk mengisi waktu luang, biasanya ia baca buku, jogging, menulis, nonton film dan series, dan kadang memilah sampah. Di akhir pekan, biasanya Irene ada di gunung atau latihan paralayang di Puncak.

Related
9 Cara Menjaga Kesehatan Otak untuk Mengatasi Mom Brain
Kenali Penyebab dan Cara Menghentikan Overthinking
Tak Hanya Fisik, Kondisi Mental Ibu Pasca Melahirkan Juga Butuh Recovery
Tags: #haloibu, #ibuanak, #menjadiibu, #motherhood, #motherhoodjourney, #postpartum, #ppd
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid