DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Belajar Memaafkan Diri Sendiri Demi Menghindari Self Sabotage

Share:

Ada yang luput dari pandangan orang-orang mengenai self sabotage. Perilaku ini sering kali dianggap sebagai hal buruk yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Kebanyakan media juga hanya menginformasikan mengenai tanda-tanda self sabotage serta dampaknya. Padahal, ada masalah serius di balik self sabotage. Yaitu, kesehatan mental yang terganggu sehingga membuat seseorang menyabotase dirinya sendiri. 

Mengapa ada orang yang tega menyabotase dirinya sendiri? Salah satu penyebab yang paling mendasar adalah sulitnya memaafkan diri sendiri. Mengutip dari Healthline, orang yang menyabotase dirinya sulit menerima kesalahan sehingga mereka mengubah mindset bahwa kesalahan tersebut disebabkan oleh faktor lain. Misalnya, menyalahkan orang lain atas kesalahan itu. 

Memaafkan diri sendiri memang tidak mudah. Kalau tidak menyalahkan orang lain, dampaknya bisa merusak mental karena terus-terusan menyalahi diri sendiri. Menurut psikolog Fred Luskin, rintangan terbesar untuk memaafkan diri sendiri yaitu kecenderungan kita untuk terus berkubang dalam kesalahan. 

Luskin juga menyebut bahwa banyak orang yang lebih memilih menghukum diri sendiri seumur hidup daripada memaafkan dan memperbaiki kesalahan yang diperbuat. Kondisi seperti ini tentunya dapat menimbulkan trauma di masa depan hingga berujung pada self sabotage. 

Bentuk-bentuk Self Sabotage yang Jarang Disadari 

Mengingatkan kembali, self sabotage adalah perilaku yang secara sadar maupun tidak sadar mengubah pola pikir seseorang. Dari pola pikir yang berubah ini, seseorang dapat menahan atau justru membiarkan diri melakukan berbagai hal berbahaya. Self sabotage juga memungkinkan seseorang melukai dirinya sendiri hingga bunuh diri. Apa penyebabnya? Jelas bahwa yang bersangkutan tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri. 

Selain menyalahkan orang lain dan kasus bunuh diri, sebetulnya ada banyak pola self sabotage. Namun, hanya beberapa yang terlihat jelas. Antara lain yaitu, sulit memberikan reward pada diri sendiri. Orang-orang seperti ini cenderung kurang menghargai usaha dan kerja keras yang telah dilakukan. Mereka juga sulit menerima pencapaian karena ingin selalu menjadi orang yang unggul. 

Mengkritik diri sendiri secara berlebihan juga merupakan bentuk self sabotage. Padahal, setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Setiap orang juga memiliki sisi buruk sehingga kita tidak boleh keterlaluan dalam mengkritik diri sendiri. Kritik berlebihan yang dilontarkan dalam jangka panjang hanya akan membuat kamu kehilangan rasa percaya diri loh, bu. 

Berdamai dan Memaafkan Diri Sendiri Adalah Kuncinya 

Ada berbagai hal yang melatari seseorang sulit memaafkan diri sendiri. Selain faktor internal yang menyangkut kesehatan mental, hal tersebut juga disebabkan dari trauma masa kecil. Seperti yang disebutkan jurnal ilmiah Effects of Positive and Negative Childhood Experiences on Adult Family Health (2021), trauma itu berkaitan dengan pola asuh orang tua. 

Orang tua yang sering menyalahkan, mengkritik berlebihan, hingga mempermalukan anak dapat membuatnya sulit menerima kesalahan. Anak cenderung menghindari kesalahan dan jika hal itu terjadi, Ia akan merasa menyesal dan tidak bisa memaafkan diri sendiri.  

Meski sulit, cobalah belajar memaafkan diri sendiri. Jangan biarkan trauma masa kecil menghambat kita untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Sebuah penelitan dari Baylor University, Texas, Amerika Serikat menemukan fakta bahwa orang-orang yang terus-terusan merasa bersalah dan menyesasl dapat mendorong perilaku kecurangan, membuat kerusakan fisik pada seseorang, berbohong, dan masalah lainnya. 

Penelitian tersebut juga menyebut bahwa memaafkan dan memperbaiki kesalahan akan meringankan beban kita di dalam diri. Jika penyesalan dan rasa bersalah tak kunjung berakhir, sebaiknya meminta maaf kepada orang yang bersangkutan dulu baru bisa memaafkan diri sendiri. 

Bu, sebagai manusia kita harus bisa menerima bahwa kesalahan adalah proses untuk menjadi lebih baik. Kesalahan juga merupakan bagian hidup yang harus kita jalani. Ketika mengakui kesalahan, kita juga harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Jangan sampai terus merasa bersalah, menyalahkan orang lain, atau menghukum diri sendiri. 

Sumber: 

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Kenali Gejala Hepatitis Akut, Penyakit Yang Menyerang Anak Dan Mulai Mewabah Di Dunia 
Kenali 4 Fase Quarter Life Crisis, Kamu Ada Di Tahap Mana?
Melihat Kepribadian Seseorang Dari Aroma Parfum
Tags: #berdamai, #dewasa, #haloibu, #haloperempuan, #hidup, #kesehatanmental, #lifestyle, #menjadiperempuan, #mentalhealth, #peace, #perempuan, #selflove, #selfsabotage, #transisi, #womenempowerment
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid