DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Womanhood Diary
Your Womanhood Diary

Turning Red: Gambaran Proximal Parenting dan Penerimaan Diri Seorang Remaja 

Share:

Turning Red bukanlah film animasi biasa. Film ini juga menggambarkan isu mental health pada perempuan. Karakter utama dalam film ini adalah seorang remaja berusia 13 tahun berama Meilin Lee. Mei berasal dari keluarga yang mengimplementasikan pola asuh proximal parenting ala orang tua Asia. Kita bisa melihat Turning Red menggambarkan sosok Mei adalah anak dari keturunan Tionghoa. 

Proximal parenting adalah pola asuh yang menimbulkan self regulation di mana orang tua mampu mengontrol emosi, perilaku, dan perhatian. Self regulation ini tidak selalu dilakukan orang tua dengan sistem otoriter atau paksaan, tetapi bisa juga sebagai dampak dari intensifnya kontak tubuh dengan anak.  

Mengutip dari National Geographic, proximal parenting lebih dominan diterapkan orang tua Asia. Kontak fisik antara ibu dan anak di negara Asia lebih erat dibandingkan dengan Barat. Dalam artikel itu juga disebutkan bahwa orang tua Asia cenderung mengajak bayinya tidur bersama sampai berusia 2 tahun. Sedangkan di negara Barat, bayi dibiarkan tidur sendiri di kamar terpisah setelah mereka berusia 6 bulan. 

Eratnya kontak fisik antara orang tua dan anak Asia juga digambarkan Turning Red. Jika diperhatikan, dalam beberapa scene  Mei sering memeluk Ibu dan Ayahnya. Mei juga selalu berusaha menjadi anak penurut dan mengikuti seluruh keinginan Ibunya. 

“Aku harus selalu mematuhi keinginan ibu,” demikian kalimat yang sering diucapkan Mei. 

Begitupun sebaliknya, Ibu Mei merasa memiliki kontrol atas anaknya. Ia sering memata-matai Mei untuk memastikan bahwa anaknya bersikap sesuai harapannya. Misalnya, melabrak Mei ketika pergi ke perayaan ulang tahun Tyler. 

Meskipun proximal parenting membuat jarak antara ibu dan anak semakin dekat, tetapi pola asuh ini berisiko menimbulkan masalah kesehatan mental pada anak. Menurut Psikolog dari Universitas Osnabruck, Jerman, Heidi Keller anak-anak yang diasuh dengan pola proximal parenting  tidak pandai menyampaikan emosi. 

Akibatnya, mereka kerap meluapkan emosi dengan cara yang salah. Mereka juga kurang percaya diri dan tidak pandai mengambil keputusan. Seperti yang dilakukan Mei saat berbohong kepada Ibunya demi menonton konser idolanya bersama ketiga sahabatnya. 

Ia meluapkan rasa semangatnya mengumpulkan uang untuk membeli tiket konser dengan cara yang bertentangan dari budaya keluarganya. Yaitu, sengaja berubah berkali-kali menjadi panda merah.  

Mei Mengajarkan Pentingnya Menerima Berbagai Sisi di Dalam Diri Kita 

Setiap orang memiliki berbagai sisi dalam dirinya. Itulah yang dikatakan Ayah kepada Mei sebelum ritual melepas panda merah. “Intinya bukan untuk menyingkirkan sisi yang buruk. Tetapi untuk memberi ruang, hidup dengannya,” demikian yang diucapkannya. 

Ucapan tersebut membuat Mei menerima panda merah sebagai bagian dari dirinya. Saat ritual berlangsung, Ia memilih untuk tidak melepaskan panda merah dan mempertahankannya. Hal ini bertolak belakang dengan sikap ibu, tante, dan nenek Mei yang tidak bisa menerima panda merah di dalam diri mereka.  

Menerima diri sendiri memang tidak mudah. Kita sering tidak sadar membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ketika mengetahui ada sisi yang berbeda dengan orang lain, sisi tersebut cenderung sulit diterima. 

Padahal, menurut jurnal ilmiah Health Psychology, menerima dan mencintai diri sendiri akan membuat hidup kita lebih sehat. Selain itu, hal ini juga mampu mencegah gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. 

Pentingnya Support System 

Tidak mudah bagi Mei untuk bisa menerima panda merah sebagai sisi dirinya. Awalnya, Ia sempat merasa cemas dengan sisi tersebut dan selalu berusaha menutupinya. Namun, perlahan Ia mulai menerima sisi panda sahabatnya merah setelah mendapat dukungan dari tiga sahabatnya. Mei khawatir kalau ketiga itu tidak mau lagi mendekatinya, tetapi mereka menerima Mei dengan sisi panda merahnya.  

“Kami menyayangi mu, Mei. Apapun yang terjadi, panda atau bukan,” begitu yang diucapkan Miria, salah satu sahabat Mei. 

Support system memang sangat erat akitannya dengan kesehatan mental. Support system juga bisa membuat seseorang merasa nyaman dan mengurangi stres. Berdasarkan hasil studi American Psychological Association, seseorang yang tidak memiliki support system yang baik berisiko mengalami depresi dan gangguan kesehatan lainnya. 

Dalam Turning Red, kita bisa melihat Mei mulai percaya diri dengan sisi panda merah setelah mendapatkan support dari sahabatnya. Dukungan itu juga selalu berhasil membuat Mei meredakan emosinya. 

Refrensi tambahan:

Dwi Reka

Energetic person and women issue observer, a writer

Related
Tipe Ibu Berdasarkan Zodiak, Kamu yang Mana, bu?
5 Alasan Kamu Harus Bangga Miliki Stretch Mark
Agar Rumah Jadi Tempat Ternyaman, Lakukan Tips Ini !
Tags: #anakremaja, #animasi, #emosi, #filmkeluarga, #haloperempuan, #ibuanak, #keluarga, #menjadiibu, #menstruasi, #parenting, #perempuan, #perempuanbisa, #rekomendasifilm, #remaja, #sahabat, #teenager, #turningred, #womenempowerment
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid