DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Motherhood Journey
Your Motherhood Journey

Lima Tahapan Berduka di Masa Transisi Menjadi Ibu

Share:

“Setiap ibu akan melewati lima tahap grieving atau berduka setiap habis melahirkan,” adalah salah satu kalimat dari Mbak Ashtra yang membuat aku betul-betul kaget ketika ikut Lingkaran Ibu bulan Februari lalu. Sebuah kalimat yang membuat aku betul-betul sadar dan tercerahkan atas apa yang aku rasakan selama tiga tahun ini setelah melahirkan, karena memang terasa persis seolah-olah terjadi kematian. Tentunya bukan aku yang meninggal, tapi ternyata jiwa dan diriku yang lama sudah tiada.

Beberapa minggu setelah Lingkaran Ibu, aku menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa pada momen kelahiran terdapat dua kejadian, yaitu lahirnya seorang bayi, dan matinya jiwa ibu yang lama. Seperti halnya kehilangan-kehilangan lain, sebuah perasaan akan hadir, yakni BERDUKA.

Tradisi-tradisi Indonesia sebenarnya sangat terbuka akan kematian, dan bahkan menjadikannya sebuah hal yang “dirayakan” atau menjadi alasan untuk berkumpul. Namun sulitnya untuk kematian dalam hal ini, tidak ada orang yang betul-betul meninggal, dan bahkan diikuti setelah momen melahirkan yang merupakan momen kebahagiaan. Ditambah lagi, kecenderungan masyarakat Indonesia saat ini yang juga masih menyepelekan masalah emosional dan perasaan. Maka ketika seorang ibu mengungkapkan kesulitannya secara emosional setelah melahirkan, orang-orang sekelilingnya cenderung dengan mudah menghakimi dengan berkata, “kamu perlu lebih bersyukur karena udah bisa punya anak”, “kamu perlu lebih banyak ibadah”, atau “itu memang konsekuensinya”.

Ibu tersebut mungkin akan makin terpuruk, karena ia tidak mendapatkan hal paling dasar yang dibutuhkan seseorang yang berduka, yaitu acknowledgement atau pengakuan, dan ruang penerimaan untuk semua perasaannya.

Keberdukaan dalam Bertransisi Menjadi Ibu
Lalu, ibu berduka karena kehilangan apa? Pada umumnya, kehidupan dan dirinya yang dulu. Menurutku berdasarkan pengalaman, perasaan ini timbul lebih karena kehilangan atau perubahan drastis dalam hal kondisi fisik tubuh (sakit jahitan melahirkan, puting berdarah, dll), gaya hidup (kekurangan tidur akut, kesulitan waktu untuk hobi atau kegemaran, dll), mood/kondisi emosional (perubahan hormon yang hebat membuat ibu gampang sedih, nangis, ataupun marah), kehidupan sosial (kesepian bersama bayi 24 jam, kehilangan teman karena tidak sepaham lagi, ataupun tidak ada teman bicara yang dewasa), identitas (tidak mengenal diri sendiri), dan banyak lagi. Nothing is in her control anymore. Hidupnya tidak akan pernah sama lagi, dan dirinya yang lama tidak bisa ada lagi.
Berdasarkan penjelasan Mbak Ashtra, hal Ini juga bakal kejadian lagi di momen melahirkan seterusnya, karena diri ibu yang dulu (misalnya ibu dari anak satu) tidak bisa ada lagi. Hidupnya sudah bertransisi, dan dirinya juga perlu berubah lagi.

Five Stages of Grief
Lima tahapan berduka atau five stages of grief adalah teori klasik tentang berkabung atau berduka dari psikiatris dari Swiss, Elisabeth Kübler-Ross. Perlu diingat bahwa setiap tahapan ini tidak harus bergerak searah, tidak harus lengkap mengalami kelima tahapan ini, dan bisa bolak-balik. Aku sendiri nggak mengalami semuanya, dan cenderung bolak-balik. Durasinya juga berbeda setiap orang, contohnya aku sebagai ibu yang hampir empat tahun lalu melewati momen melahirkan, namun masih menjalani proses berduka ini. Berikut kelima tahapan tersebut dengan sedikit cerita pengalaman dari aku. Sambil kita membedahnya satu per satu, mungkin perlu ditanyakan ke diri sendiri “apakah aku mengalami tahap ini? Bagaimana bentuknya dalam pengalamanku?”

  1. Denial (Menyangkal)
    Definisi: Penolakan, dalam kondisi kaget, atau merasa kalau ini mesti “sebuah kesalahan teknis”.
    Penolakan dalam konteks motherhood mungkin terjadi kalau si ibu tidak menginginkan kehamilannya. Banyak hal lho yang bisa jadi latar belakang kenapa seorang perempuan menolak untuk punya anak. Dari artikel yang aku baca tentang tahap ini, setelah penolakan dan kagetnya lewat, proses penyembuhan batin baru akan mulai. Aku pribadi tidak merasakan tahapan ini.
  2. Anger (Marah)
    Definisi: Marah, kesal, merasa bersalah atau perlu ada yang disalahkan.
    Wah, aku dulu sangat merasakan tahap ini, terutama tiga bulan pertama sehabis melahirkan. Aku merasakan marah dan kecewa karena merasa dibohongi atau ditutup-tutupi tentang realita menjadi ibu. Aku sering merasa marah ke ibuku, karena tidak pernah menjelaskan beratnya masa habis melahirkan. Aku merasa kesal dan ingin mengomel pas lihat iklan TV produk mandi bayi dimana ibu dan bayinya selalu ceria saat waktu anaknya mandi, karena “bohong dan nggak riil banget deh itu!”. Aku juga merasa marah ke suster atau bidan di rumah sakit yang sama sekali tidak membantu transisi tubuhku. Aku semacam bilang “kalian ini penyebabnya aku shock karena menutup-nutupi bagian sulit ini!”
  3. Bargaining (Tawar Menawar)
    Definisi: Melakukan sesuatu demi mendapatkan sesuatu kembali.
    Setelah aku baca betul the five stages of grief, ternyata aku banyak sekali melakukan bargaining. Aku sering maksa untuk melakukan banyak hal yang aku inginkan dengan membandingkan diriku yang dulu sebelum melahirkan. Harapannya aku bisa merasa seperti Lolitya Anindita yang dulu lagi (walaupun sebentar saja), misal berharap atau agak memaksa ambil kerjaan tertentu. Selain itu aku juga sering berharap bisa mengerjakan puluhan hal dalam sehari, sekarang juga jadi berharap hal yang sama setelah melahirkan. Padahal, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tau hidupku yang dulu jelas tidak mungkin ada lagi seutuhnya.
  4. Depression (Depresi)
    Definisi: Merasa depresi, terpuruk, tak berdaya, ingin kabur atau rehat.
    Ini juga aku sangat mengalami, dan sebenarnya banyak juga ternyata teman-teman ibu yang mengalami. Tau kan, pasti ada hari dimana kita berakhir menangis. Biasanya pemicunya hal sepele, seperti anak terus menolak untuk mandi, dan dia jadi memukul atau membentak kita. Hal ini biasanya dibilang “mommy burn out”. Buat aku, mengalami sesi-sesi depresi ini justru jadi pintu penyadaran diri. Sesi depresi yang paling berat bahkan justru mendorong aku untuk mendapatkan support profesional, yaitu aku pilih Lingkaran Ibu dari Halo Ibu, dan Mom’s Recharge Session oleh Raden Prisya. Setelah Lingkaran Ibu terutama, aku jadi betul-betul sadar kalau aku sedang berduka.

Di momen depresi yang paling berat, aku hampir berfungsi seperti robot saja. Aku hidup, tapi pikiran dan batin tidak hadir di momen itu. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan. Self-esteem terjun bebas, rasanya aku adalah orang yang membawa penderitaan, dan tak berharga. Di waktu-waktu sendiri dan tenang, di dalam pikiran aku mengalir sungai yang isinya flashback memori luka batin dari masa lalu. Di titik itu aku sadar betul kalau enggak bisa begini terus dan ini mulai terlalu berlarut. Doa hanya memberikan ketenangan sementara, dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Secara sadar aku selalu bersyukur, tapi pikiran bawah sadarku yang mulai mengambil alih hidupku. Aku butuh bantuan.

  1. Acceptance (Menerima)
    Definisi: Menerima dan terbuka (untuk diri yang baru), pola pikir “life is now different, but I will be okay”.
    Banyak sekali momen pencerahan dan penyembuhan batin yang aku dapatkan menjalani proses berduka ini. Salah satu yang aku temukan juga arti riil identitas diriku, jadi sebenarnya aku bukan merasakan kehilangan identitas. Justru aku sedang dalam proses melihat identitas aku yang sebenarnya. Aku juga jadi sadar kalau selama ini membawa-bawa trauma bertahun-tahun, dan sekarang adalah waktunya untuk “beberes sampah batin” supaya aku tidak mewariskan trauma ini ke anak. Bahkan nanti anakku mewariskannya ke cucu, dan seterusnya warisan antar generasi. Syukurlah aku sangat semangat untuk melakukan proses yang menantang ini. Sejak ikut Lingkaran Ibu, aku rutin self-healing berupa latihan meditasi sendiri di rumah, dan rutin journaling. Dalam dua bulan saja aku sangat merasakan bahwa hatiku lebih damai, dan tidak lagi mudah terpicu keluarnya berbagi emosi akibat dari perilaku orang lain (terutama anak). Lalu di bulan ketiga aku memutuskan untuk juga didampingi psikolog secara online, supaya proses self-healing yang aku berjalan lebih lancar lagi, dan aku lebih yakin akan pemahaman kondisi yang aku hadapi. Ada salah satu ungkapan yang pernah aku dengar, dan menurutku sangat benar berdasarkan pengalaman, yaitu “sebetulnya setiap momen dimana emosi negatif kita terpicu untuk keluar adalah sebuah colekan dari batin kita akan suatu emosi yang belum selesai diolah”.

Kamu Tidak Sendirian
Dalam perjalanan pemulihan batinku selama beberapa bulan ini, Lingkaran Ibu merupakan titik balik sekaligus pemicu. Aku sampai saat ini masih merasa kalau Lingkaran Ibu adalah salah event yang paling powerful dalam perjalanan transisi aku menjadi ibu. Banyak sekali perputaran energi positif, release emosi, dan pengetahuan yang jarang diberikan dalam event seputar motherhood lainnya. Aku selalu merekomendasi ibu manapun yang masih merasa berat sekali ketika bertransisi menjadi ibu untuk ikut Lingkaran Ibu, dan berbagai kelas dari Halo Ibu.

Doaku, para ibu akan semakin mendapatkan apapun bentuk dukungan yang ia butuhkan. Terutama, para ibu bisa makin welas asih dan sayang ke dirinya sendiri, sehingga bisa lebih memprioritaskan kebutuhan dirinya sendiri, bahkan kadang di atas anaknya. Be even more kind to yourself, Bu.

Salah satu ungkapan sangat kuat yang aku pernah dengar berhubungan dengan berduka adalah bahwa “grief is one of the main gates of the soul”. Jadi bersiaplah untuk bertemu jiwamu seasli-aslinya ketika dalam proses menjadi ibu. Aku, dan ibu-ibu lainnya ada bersamamu, you’re not alone! Peluk virtual!

Lolitya Anindita

Related
Tidak Semua Pertanyaan Butuh Jawaban
Mengatur Nafas, Kurangi Ngegas.
Menyembuhkan Luka, Putus Rantai Duka
Tags: #empoweringmothers, #haloibu, #ibu, #menjadiibu, #tahapanberduka
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibuid