DONATE & SHOP
Lets share some love updates
Your Motherhood Journey
Your Motherhood Journey

Menutup bisnis, menemukan diri

Share:

Sebelumnya, saya dengan bangga akan memperkenalkan diri sebagai pemilik Community Coffee, sebuah kedai spesialiti kopi & makanan otentik Indonesia yang mendukung kegiatan komunitas maupun individu yang mengangkat kualitas kehidupan dan menambah skill di Bintaro, Tangerang Selatan.

Community coffee, Bintaro

Kedai yang menjadi tempat Lingkaran Ibu pertama dibuat oleh Ashtra; memberi ruang bagi komunitas ibu pelukis @curart.id ; meluncurkan komunitas @keluargakita.id Rangkul Tangerang Selatan dan melahirkan kajian Al Qur’an rutin bersama Pak Uci Armisi. Kami juga adalah kedai kopi pertama yang mengundang Mas Doddy Samsura ke area Bintaro untuk mengisi sesi tentang Spesialti Kopi.

Tim curart.id di depan mural mereka

Kakek sayalah yang berjasa menumbuhkan kecintaan saya pada kopi sejak usia 5 tahun, lewat kopi tubruk yang diseduhnya tiap pagi. Saat saya SMP, keluarga kami mengalami cobaan besar yang mengharuskan saya menjadi kuat untuk adik saya dan orang tua kami. Di situlah saya mulai minum kopi dan sangat menyukainya, seperti sebuah upaya untuk mendewasakan diri sendiri lebih cepat. Pada tahun 2013, saya sudah menikah dan melahirkan dua anak. Tapi, saya berubah. Saya tidak mengenali diri, tidak punya mimpi ataupun kesibukan. Saya paham belakangan saya juga mengalami baby blues. Saya menjadi seorang ibu yang tidak merasa butuh bantuan dan tidak merasa perlu mencari ilmu parenting untuk memperbaiki diri.


Community Coffee lahir dari kasih sayang ayah terhadap saya. Ayah mengajak saya dan adik untuk membangun kedai dengan tujuan mulia mensejahterakan komunitas di balik produk spesialiti kopi, juga komunitas secara umum melalui kegiatan-kegiatan positif. Maka lahirlah Community Coffee pada Agustus 2015.

November 2015 Community Coffee mengalami kebakaran; semua barang di lantai dasar hangus luluh lantak kecuali mesin kopi Simonelli dan Grinder Mazzer Jolly. Saya terhenyak, menangis dan syok. Baru 3 bulan saya bahagia punya kedai kopi, Allah SWT langsung menghanguskanya. Dramatis…

Pasca kejadian itu, saya belajar untuk rendah hati, menata ulang visi misi dan bangkit serta bertahan. Om saya masuk sebagai investor dan Community Coffee kembali dibuka pada hari ulang tahun saya, Januari 2016. Tapi, masalah belum selesai. Sebagai pemilik, hanya saya dan suami yang terlibat 100% mengurus semuanya. Pemilik lainnya tidak berkontribusi dan lama kelamaan menjadi beban. Menjalani bisnis tanpa bantuan, membuat runcing pernikahan kami dan menjadikan anak-anak sebagai korban. Saya makin tidak ikhlas meninggalkan mereka demi Community Coffee. Saya mengompromikan hubungan suami-istri
hanya untuk rapat bisnis. Kondisi ini bukan apa yang kami harapkan untuk masa depan kami sekeluarga. Terutama, karena Community Coffee bukan sumber pemasukan utama keluarga kami.

Saat anak pertama mengalami patah tulang tangan sebanyak dua kali pada tahun 2016 dan 2017, saya mulai rajin sholat malam meminta ketetapan hati. Jauh di lubuk hati saya tahu, ada yang salah. Saya sudah sangat memaksakan sesuatu yang belum siap saya laksanakan.

All these, have to end.

Pada rapat para pemilik di September 2018, saya memutuskan secara final bahwa Community Coffee akan ditutup pada November 2018. Konsekuensinya, secara emosional saya hancur karena tidak siap.

Siapa saya setelah Community Coffee?

Akankah saya berarti?

Apa yang akan saya kerjakan?

Akankah orang kasihan?

Apakah keputusan saya salah?


Sementara itu, Community Coffee menjelang nafas terakhirnya, mendukung rangkaian acara #ibuberdaya untuk Palu dan Donggala yang impact-nya sungguh membuat saya merasa

Ashtra yang paling berjasa membangkitkan saya kembali seperti Phoenix. Ia mengajak saya bertemu, menjelaskan tentang stages of grieve dan matter of priorities. Saya diajak mempelajari self love dan mendengarkan diri saya. Saya “ditampar” saat berkutat dengan self pity & denials. Saya sungguh beruntung, para sahabat yang lain juga siap mendengarkan saya dan memaklumi pilihan saya yang sedang ingin menyendiri. I am taking it slow, I am resting.

Dari Kiri ke kanan : Anggia Sulistyo, Sessa Xuanthi, Ashtra Dymach.

Saya belajar memilah prioritas. Setiap Senin, saya biasa membuat daftar 3 hal yang saya targetkan terjadi di minggu itu dan 3 hal yang saya alami dan syukuri di minggu sebelumnya. Kegiatan itu meredakan ego saya yang terluka akibat tidak lagi punya wadah konkrit untuk berkarya, membuat saya lebih fokus tentang bagaimana berusaha menyembuhkan diri sendiri.
Saya mulai mendalami IGTV Mas Reza Gunawan, mulai sering membaca tulisan tentang hollistic well being, dan mendapat pemahaman baru tentang karakter alami saya. I am a people pleaser, I have lived my life so far to be loved by my parents and to get their approvals.

Saya mulai menerima situasi dengan jiwa lapang. Memilih bertemu hanya dengan mereka yang tidak bikin saya sesak nafas dan terpaksa basa-basi, mulai belanja makanan-makanan sehat, karena ternyata saya happy saat mampu mengonsumsi sesuatu yang punya values and yes, saya masih suka ngopi hehehe.


This is it! This is why Community Coffee existed. It has lived up to its name. Maybe yes, our jobs had been done. Now we can go to the next phase”.

Saya tidak memaksakan diri untuk langsung kembali berbisnis. Tidak jika alasannya belum bermakna dan belum berfaedah bagi kehidupan saya sekeluarga. Tawaran menjadi konsultan kopi dan lainnya datang dan pergi. Buat saya, semua ujian Allah SWT untuk melihat keseriusan berhenti dan menenangkan diri saat ini.

I choose to live a concious living. Saya merasa lebih damai, punya waktu tak terbatas dengan 2 bocah lelaki yang ternyata lebih bahagia saya tidak sibuk terus mengurus komunitas dan kedai kopi. Di luar itu semua, saya nyaman menjadi diri sendiri.


“So the answer to my cure is me, it was me, and it has always been me. Gonna love myself, don’t need anybody else. I love me!”

Hailee Steinfeld



Anggia Murni

Saya seorang wanita yang masih bertransisi sebagai diri seutuhnya. Saya sudah 32 tahun, transisi-transisi saya mencakup sebagai seorang anak selama 22 tahun kemudian seorang istri selama 10 tahun dan ibu untuk 2 anak lelaki aktif, dominan & intense selama 9 tahun & menuju 7 tahun. Ultimately tujuan saya adalah ingin berkontribusi kepada komunitas & sesama ibu atau perempuan, dengan berbagi cerita kehidupan sehari-hari yg menantang, yg bermakna & yg receh juga menyenangkan hehehe, penting untuk merasa tidak sendirian dalam motherhood life yg super demanding exhausting namun fulfilling ini & di terima tanpa judgements. Karena saya percaya semua ibu butuh di ingatkan akan kekuatan nya yg unik & semua ibu sudah melakukan yg terbaik dengan perjuangan pribadi nya masing-masing. Saya bagian dari #haloibu & saya adalah #ibuberdaya seperti semua ibu hebat di luar sana, I'm with you Ibu.

Related
Melahirkan Buku “Halo Ibu, Apa Kabar?”
Self Awareness dengan Rollerskool
Tips mudik untuk ibu. Pastikan ibu memperhatikan hal ini.
Tags: #ceritaibu, #womanpreneur, haloibu, motherhood
No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
@haloibu.id